|
Judul |
: |
Effectiveness of Cognitive-Behavioral Treatment for Major Depressive Disorder in a University Psychology Clinic. |
|
Jurnal |
: |
The Spanish Journal of Psychology |
|
Volume & Halaman |
: |
Vol. 15, 3. Hal. 1388-1399 |
|
Tahun |
: |
2012 |
|
Penulis |
: |
Francisco José Estupiñá Puig dan Francisco Javier Labrador Encinas |
|
Reviewer |
: |
Mahmudia Ratri Kirana |
|
Tanggal |
: |
10 Mei 2017 |
|
Abstrak |
: |
Mayor Depressive Disorder (MDD) adalah gangguan mental yang paling umum dilingkungan kita, dan salah satu dari penyebab utama adalah kecacatan. Sementara ada beberapa perawatan yang didukung secara empiritis untuk MDD, beberapa keraguan telah disampaikan pada penerapannya mengenai waktu, komponen, keefektifan EST dalam praktek klinis rutin. Beberapa budaya telah dilakukan untuk membedakan EST, namun biasanya komponen yang tepat dari pengobatan yang dikembangkan tidak dipertimbangkan secara rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan yang diberikan pada komponen, panjang, dan efektivitas (dalam efek ukuran, pelengkap, dan rasio yang ditingkatkan) terhadap studi Benchmark. Restrukturisasi kognitif adalah komponen yang paling sering diberikan dalam perawatan. Hasil terapi menunjukkan ukuran efek 3.12, 55.1% rasio yang lebih baik dari sampel awal, 80% pelengkap. Hasil dan keterbatasan penelitian saat ini, terutama yang berkaitan dengan karakteristik sampel dan pusat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komponen pengobatan berbasis EST pada 69 kasus dari Universitas Psikologi Klinis, dan untuk membandingkannya dengan hasil studi efikasi yang dipublikasikan pada EST (aktivasi perilaku, terapi kognitif, terapi interpersonal) |
|
Subjek Penelitian |
: |
Subjek penelitian terdari dari 69 pasien dengan karakteristik sosiodemografis. Pasien adalah orang dewasa yang meminta perawatan karena berbagai alasan, berkisar antara tahun 1999-2010, dan yang menerima diagnosis primer MDD. |
|
Prosedur |
: |
Pasien didiagnosis dengan MDD sesuai kriteria DSM (APA, 2000) oleh terapis setelah penilaian individual di mana beragam instrumen digunakan (wawancara semi terstruktur, kuesioner yang telah divalidasi seperti BDI-II, Beck Depression Inventory - II (BDIII; Beck, Steer, & Brown, 1996)). Penliaian median sesi adalah 4, diakhiri dengan diagnosis, formulasi klinis, dan rencana pengobatan. Terapis yang sama kemudian melakukan perawatan. |
|
Variabel dan Instrumen |
: |
1. Karakteristik pasien: Jenis kelamin, usia, status sipil, situasi kerja, tingkat pendidikan, alasan konsultasi, sumber rujukan ke pusat, status siswa atau personil UCM, komorbiditas dan diagnosis sekunder (jumlah dan Tipe), durasi masalah, perawatan sebelumnya (jumlah dan jenis), dan anteseden keluarga depresi juga disertakan. 2. Karakteristik terapis: Jumlah sesi penilaian dan sesi pengobatan sebelum putus sekolah, jumlah sesi tindak lanjut dan jenis teknik yang digunakan dalam perawatan, serta kepatuhan pasien terhadap sesi dan tugas. 3. Instrumen a. Berisi aplikasi program Behavioral Aktivasi, Terapi Kognitif dan Interpersonal untuk depresi. b. Menggunakan metodologi RCT yang akan memaksimalkan validitas internal studi. c. Memiliki kriteria pemulihan eksplisit, lebih disukai skor pada BDI atau BDI-II. |
|
Analisis Data |
: |
Data demografi, klinis, dan pengobatan dan hasilnya dikodekan dengan SPSS 15.0 untuk analisis dengan statistik deskriptif yang bersangkutan. Data pasien yang menyelesaikan pengobatan dibedakan dari data orang yang keluar dari perawatan. Rasio keberhasilan pengobatan dihitung berdasarkan persentase pelepasan dan putus sekolah dan signifikansi klinis perubahan, yang didefinisikan sebagai tidak adanya depresi pada akhir pengobatan dan skor BDI-II lebih rendah dari 7 poin. Cohen's δ digunakan untuk mengukur ES perlakuan pada posttreatment, serta RCI. Pada nilai dimana hal ini memungkinkan, hasil pengobatan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada kelompok perbandingan yang dipilih. Hal ini dilakukan dengan cara uji t atau Kolmogorov-Smirnov (tergantung pada asumsi asumsi parametrik yang terpenuhi), uji Chi-kuadrat, uji pasti Fisher (tergantung pada frekuensi yang diharapkan yang cukup didistribusikan), dan ES. Kami juga melakukan perbandingan antara kelompok pasien yang keluar dari perawatan dan mereka yang menyelesaikannya (karakteristik klinis demografi dan pretreatment, karakteristik pengobatan) dan antara pasien yang menggunakan obat antidepresif selama perawatan (karakteristik klinis demografi dan pra-posttreatment), dengan menggunakan satu faktor ANOVA, tes chisquare, atau uji pasti Fisher. |
|
Diskusi |
: |
1. Karakteristik Sosiodemografi Lebih dari dua pertiga pasien adalah wanita, kebanyakan dari mereka single, masih berstatus mahasiswa, dan relatif muda. Data serupa dengan sampel lainnya, untuk tingkat pendidikan tinggi (MSPS, 2007) menunjukan persentase pengangguran yang lebih tinggi di kalangan putus sekolah mungkin karena alasan ekonomi. 2. Karakteristik Klinis Pasien Sampel yang digunakan mencerminkan masalah depresi berat; semuanya memenuhi kriteria klinis untuk MDD, dengan tinggi Skor di BDI-II (M = 29,16), yang sesuai dengan gejala simtomatologi depresif berat. Data lain seperti durasi rata-rata masalah 22 bulan, dan hampir setengahnya telah menerima perawatan sebelumnya untuk masalah ini, mendukung penilaian tingkat keparahannya. Komorbiditas terbatas pada 20,3% kasus, meskipun profil komorbiditas antara pasien yang keluar dan mereka yang tidak berbeda. 3. Karakteristik Terapis Berdasarkan penerapan EST, tergantung pada rumusan klinis dari setiap masalah, bukan pada penugasan pasien untuk diagnosis. Tingginya persentase rujukan (13,7%) berkaitan dengan fakta bahwa rata-rata tinggal terapis adalah dua tahun, setelah itu, mereka harus merujuk kasus mereka ke terapis lain dari pusat yang sama. Rujukan wajib ini dapat menyebabkan peningkatan jumlah sesi pengobatan dan jumlah anak yang putus sekolah. 4. Karakteristik Pengobatan Tingginya persentase pelepasan sebesar 63,76% perlu dicatat. Ada juga perbedaan penting antara keduanya. Kelompok pasien putus sekolah dan dikeluarkan sekolah. Dalam variabel perlakuan ini, jumlah rata-rata sesi dan teknik lebih rendah pada kelompok putus sekolah yang logis, meskipun juga dicatat bahwa kepatuhan mereka terhadap perawatan (absen) secara signifikan lebih rendah. |
|
Kekuatan Penelitian |
: |
1. Efek dari terapi CBT sangat baik dan dapat dikembangkan lebih luas. 2. Hasil penelitian dapat memberikan ilmu kepada setiap orang yang juga mengalami hal serupa bahwa penderita Major Depressive Disorders dapat menerima pendidikan psikoanalisis tentang masalah mereka, teknik penonaktifan, aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas yang menyenangkan, dan restrukturisasi kognitif. 3. Dapat mengontrol banyaknya sampel karena ini merupakan penelitian eksperimen. 4. CBT dapat dimanfaatkan untuk penderita Major Depressive Disorders agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. |
|
Kelemahan Penelitian |
: |
1. Daftar pustaka yang ditulis peneliti sudah lengkap namun ada beberapa tahun referensinya dirasa sudah lama terbitnya sehingga tidak up to date. 2. Tidak ada sesi tindak lanjut atau informasi tentang status akhir dari intervensi tersebut. 3. Beberapa budaya telah dilakukan untuk membedakan EST, namun biasanya komponen yang tepat dari pengobatan yang dikembangkan tidak dipertimbangkan secara rinci. |
|
Kesimpulan |
: |
Terapi Interpersonal adalah salah satu yang memiliki komponen umum lebih sedikit. Komponen utama ESTs, kecuali untuk Terapi Interpersonal, diterapkan untuk sebagian besar kasus dan dalam batas waktu tertentu, yang serupa dengan yang ditunjukkan dalam RCT. Baik Behavioral Activation maupun Cognitive Therapy mengusulkan kegiatan pemrograman, pelatihan ketrampilan sosial, dan pemecahan masalah sebagai komponen ajuvan. Terapi Kognitif mencakup komponen penting dari restrukturisasi kognitif sebagai inti pengobatan di Universitas Psikologi Klinik, setidaknya dua pertiga dari kasus yang diobati menerima hampir semua komponen Behavioral Activation and Cognitive Therapy. Pasien yang keluar dari perawatan menerima rata-rata 5 sesi pengobatan, dengan median 6 teknik intervensi. Pendekatan psikoedukasional hadir dalam 100% kasus, dengan teknik yang tersisa berkisar antara 80% untuk teknik aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas menyenangkan dan 4% untuk teknik biofeedback. Secara keseluruhan, setidaknya 66% pasien ini menerima pendidikan psikoanalisis tentang masalah mereka, teknik penonaktifan, aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas yang menyenangkan, dan restrukturisasi kognitif. Dalam 66,7% kasus, terapis memperkirakan bahwa lebih dari 75% dari jumlah tersebut resep pengobatan diikuti oleh pasien. Kehadiran dan ketepatan waktu dalam sesi tersebut adalah dinilai memadai sebesar 66,7% kasus. |
|
Daftar Pustaka |
: |
Puig, F. J. E & Encinas, F. J. L. (2012). Effectiveness of Cognitive-Behavioral Treatment for Major Depressive Disorder in a University Psychology Clinic.. The Spanish Journal of Psychology. 15, 3, 1388-1399. |
TUGAS PSIKOTERAPI 3 - REVIEW JURNAL PSIKOTERAPI (CBT)
REVIEW JURNAL PSIKOTERAPI (LOGOTHERAPY-VICTOR FRANKL)
Judul
|
:
|
The Effect of Logotherapy on the Suffering, Finding
Meaning, and Spiritual Well-being of Adolescents with
Terminal Cancer
|
Jurnal
|
:
|
J Korean Acad Child Health Nurs.
|
Volume & Halaman
|
:
|
Vol. 15, No. 2 & Hal. 136-144
|
Tahun
|
:
|
2009
|
Penulis
|
:
|
Kang, K.A., Im, J.I., Kim, H.S., Kim, S.J., Song, M.K.,
& Sim, S.
|
Reviewer
|
:
|
Mahmudia Ratri Kirana
|
Tanggal
|
:
|
7 April 2017
|
Abstrak
|
:
|
Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi efek dari
program pendidikan logotherapy. Metode yang
dilakukan adalah eksperimen yaitu membagi kelompok kontrol
nonequivalent, nondesain lalu disinkronkan dan dilakukan
dengan sampel yang diberikan perlakuan yang menghasilkan
kenyamanan pada 29 anak-anak dengan penderita kanker.
Kelompok eksperimen (n = 17) berpartisipasi dalam program
pendidikan logotherapy yang terdiri dari 5 sesi
setiap hari selama satu minggu. Kelompok kontrol (n = 12)
menerima perawatan biasa. Efek diukur menggunakan skala
penderitaan, makna remaja dalam kehidupan (AMIL), dan skala
kesejahteraan spiritual (SWBS). Hasilnya ada perbedaan yang
signifikan dalam penderitaan (W = 153,00, p <0,05) dan
makna dalam hidup (W = 78,00, p <0,05) antara kelompok
eksperimen dan kontrol. Namun, tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam kesejahteraan rohani (W = 136,50, p>
0,05). Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan
adalah logotherapy efektif dalam mengurangi
penderitaan dan meningkatkan makna dalam hidup. Logotherapy dapat dimanfaatkan untuk remaja
penderita kanker untuk mencegah distress eksistensial dan
meningkatkan kualitas hidup mereka.
|
| Subjek Penelitian | : |
Subjek penelitian terdari dari 49 peserta berumur 11-18
tahun yang berada di rumah sakit Seoul, didiagnosis tahap
III dalam penyakit kanker, dirawat di unit kanker
pediatrik. 25 orang menjadi kelompok eksperimen yang
diambil pada bulan April-Agustus 2007 dan 24 orang untuk
kelompok kontrol yang diambil pada bulan September-Januari
2008.
|
Assemen Data
|
:
|
Menggunakan skala penderitaan, makna kehidupan remaja
diukur dengan skala AMIL, dan kesejahteraan spiritual
diukur dengan
skala SWBS.
|
Metode Penelitian
|
:
|
1. Menggunakan skala penderitaan, skala ini terdiri dari
37-item yaitu skala dengan hasil 4 point menunjukkan
penderitaan yang lebih tinggi. Terdapat 37 pertanyaan yang
disusun dalam 7 faktor: hubungan keluarga, kondisi
emosional, ketidaknyamanan fisik, makna dan tujuan hidup,
rangsangan kontekstual, perubahan citra tubuh, dan perasaan
bersalah.
2. Menggunakan skala AMIL untuk melihat makna kehidupan
remaja penderita kanker. Terdiri dari 46 pertanyaan untuk
orang dewasa dari perspektif logotherapy. Skala
AMIL terdiri dari 33 pertanyaan, skala dengan hasil 4 point
memiliki arti yang lebih tinggi dalam hidup. 33 pertanyaan
yang difaktorkan menjadi 8 faktor, yaitu: pengalaman dalam
percintaan, melakukan upaya untuk bersemangat dalam
kehidupan, kesadaran menjadi seseorang yang penting,
penerimaan keterbatasan, perasaan puas, pengalaman dalam
berhubungan, berpikir positif, dan harapan.
3. Skala SWBS yaitu skala dalam kesejahteraan spiritual.
Skala ini terdiri dari 20 pertanyaan yang disusun dalam 3
bagian (kepuasan hidup, tujuan dan makna hidup, dan rasa
keterkaitan dengan Tuhan) skala dengan hasil 4 point
memiliki arti spiritual kesejahteraan yang lebih tinggi.
|
Analisis Statistik
|
:
|
Analisis statistik menggunakan SPSS, karena penelitian ini
merupakan sebuah penelitian ekperimen.
1. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis semua
variabel. Nilai rata-rata dari setiap skala digunakan untuk
pemahaman yang efektif tentang makna skor variabel
penelitian.
2. Mann-Whitney-Wilcoxon Test (MWW) digunakan
untuk membandingkan homogenitas dalam karakteristik umum
dan diagnostik antara kelompok eksperimen dan kontrol. Uji
MWW dilakukan untuk mengidentifikasi hasil homogenitas
variabel antara skor pre-test kedua kelompok.
3. Tes MWW digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata
perubahan skor makna dalam hidup, penderitaan dan
kesejahteraan spiritual.
|
Diskusi
|
:
|
Hasil yang diperoleh dalam percobaan ini mendukung
kemampuan logotherapy untuk mengatasi kekosongan
eksistensial dan meningkatkan makna dan tujuan hidup
pasien. Perawatan adalah metode mudah dipahami oleh
intervensi emosional dan spiritual bagi remaja. Penelitian
ini dimanfaatkan dari teori Frankl, bahwa jika pasien muda
menjalani logotherapy maka mereka akan menemukan
makna yang unik dari penderitaan yang mereka alami, maka
penderitaan mereka tidak bisa lagi didefinisikan. Program
pendidikan logotherapy dilakukan pada pasien
remaja dengan kanker tidak secara signifikan mengubah
spiritual kesejahteraan antara kedua kelompok, tetapi
mereka percaya bahwa manusia memiliki tubuh, pikiran, dan
jiwa, roh juga harus terlibat dalam proses penyembuhan
mereka. Respon ini menunjukkan bahwa kepedulian secara emosional dan spiritual adalah sesuatu yang sangat
dibutuhkan untuk kemoterapi dan perawatan fisik.
|
Kekuatan Penelitian
|
:
|
1. Efek dari terapi logotherapy sangat baik dan
dapat dikembangkan lebih luas.
2. Hasil penelitian dapat memberikan ilmu kepada setiap
orang yang juga mengalami hal serupa bahwa penderita kanker
dapat meningkatkan makna hidup, menyejatherakan spiritual
dan dapat mengerti makna dari penderitaan yang dirasakan.
3. Dapat mengontrol banyaknya sampel karena ini merupakan
penelitian eksperimen.
4. Logotherapy dapat dimanfaatkan untuk remaja penderita
kanker untuk mencegah distress eksistensial dan
meningkatkan kualitas hidup mereka.
|
Kelemahan Penelitian
|
:
|
1. Daftar pustaka yang ditulis peneliti sudah lengkap namun
sebagian tahun referensinya dirasa sudah terlalu lama
terbitnya sehingga tidak up to date.
2. Kelompok kontrol adalah kecil karena beberapa pasien
tidak bisa menyelesaikan pertanyaan survei karena kondisi
lemah mereka.
3. Intervensi satu minggu dianggap pendek karena kondisi
lemah pasien dan ini mencegah konfirmasi pengaruh yang
signifikan terhadap kesejahteraan rohani.
|
Kesimpulan
|
:
|
Program pendidikan logotherapy untuk remaja dengan
kanker dinilai sukses dalam
mengurangi penderitaan dan dapat menemukan makna dalam hidup.
Sebagai intervensi emosional dan spiritual dalam pengaturan
perawatan paliatif, logotherapy menunjukkan
potensi secara efektif meningkatkan kualitas hidup
dan mencegah kekosongan eksistensial yang disebabkan oleh
penyakit kanker untuk pasien remaja di bawah tekanan yang serius.
|
Daftar Pustaka
|
:
|
Kang, K.A., Im, J.I., Kim, H.S., Kim, S.J., Song, M.K.,
& Sim, S. (2009). The effect of logotherapy on the
suffering, finding meaning, and spiritual well-being of
adolescents with terminal cancer . J korean acad child health nurs. 15, 2, 136-144.
|
PERBEDAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING
A.
PSIKOTERAPI
1.1 DEFINISI PSIKOTERPI
Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang
artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan,
pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, Psikoterapi disebut juga dengan
istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran. Ada berbagai
definisi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli tentang Psikoterapi,
diantaranya :
1. Menurut Wolberg (1954), Psikoterapi adalah suatu bentuk (perawatan atau
perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor
emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan
profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu
simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu
pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi
secara lebih positif.
2. Menurut Ivey & Simek-Downing (1980), Psikoterapi adalah proses
jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan
perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian.
3. Menurut Yustinus Semiun (2006), Psikoterapi adalah suatu interaksi
sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip
psikologisuntuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku,
pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku
abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai
seorang individu.
4. Menurut Watson & Morse (1977) Psikoterapi adalah bentuk khusus dari
interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai
interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun
interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien
meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan
mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.
5. Menurut Corsini (1989), Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi
antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada
kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan
tujuan memperbaiki keadaan yyang tidak menyenangkan (distress)
pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada
salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelainan pada
fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang
tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan
terapis yang memiliki teori tentang asal-usul kepribadian, perkembangan,
mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan
yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak
sebagai terapis.
Menurut pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Psikoterapi
adalah serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan
untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Psikoterapi
merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dengan terapis yang
menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan
perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan pasien agar membantu
pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam
hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
1.2 CIRI PSIKOTERAPI
Menurut Yustinus Semiun (2006), psikoterapi memiliki ciri yaitu :
1. Interaksi Sistematis
Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu interaksi antara
kline dan terapis. Kata sistematis di sini berarti terapis menyusun
interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus yang
menggambarkan segi pandangan teoritis terapis.
2. Prinsip-prinsip Psikologis
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori
psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.
3. Tingkah Laku, Pikiran dan Perasaan
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan
perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta membantunya
supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi mungkin
diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.
4. Tingkah Laku Abnormal, Memecahkan Masalah, dan Pertumbuhan Pribadi
Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok klien yang dibantu oleh psikoterapi.
Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengalami masalah-masalah tingkah
laku yang abnormal, seperti gangguan suasana hati, gangguan penyesuaian
diri, gangguan kecemasan atau skizofrenia. Kelompok kedua adalah
orang-orang yang meminta bantuan untuk menangani hubungan-hubungan yang
bermasalah atau menangani masalah-masalah pribadi yang tidak cukup berat
dianggap abnormal, seperti perasaan malu atau bingung mengenai
pilihan-pilihan karir. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari
psikoterapi karena psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh
petumbuhan pribadi. Bagi mereka, psikoterapi adalah sarana untuk penemuan
diri dan peningkatan kesadaran yang akan membantu mereka untuk mencapai
potensi yang penuh sebagai manusia.
1.3 FUNGSI PSIKOTERAPI
1. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar, yaitu tujuan ini
biasanya dilakukan melalui terapi yang sifatnya direktif (memimpin) dan
suportif (memberikan dukungan dan semangat). Persuasi (ajakan) dengan cara
diberi nasehat sederhana sampai pada hypnosis (keadaan seperti tidur karena
sugesti) digunakan untuk menolong orang bertindak dengan cara yang tepat.
2. Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan
perasaan yang mendalam.
3. Fokus disini adalah adanya katarsis (penyucian diri yang membawa
pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan).
4. Membantu klien mengembangkan potensinya, yaitu klien diharapkan dapat
mngembangkan potensinya. Ia akan mampu melepaskan diri dari fiksasi
(perasaan terikat atau terpusat pada sesuatu secara berlebihan) yang
dialaminya. Klien akan menemukan bahwa dirinya mampu untuk berkembang ke
arah yang lebih positif.
5. Mengubah kebiasaan, yaitu tugas terapis adalah menyiapkan situasi
belajar baru yang dapat digunakan untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan yang
kurang adaptif.
6. Mengubah struktur kognitif individu, yaitu menggambarkan tentang dirinya
sendiri maupun dunia sekitarnya. Masalah muncul biasanya terjadi
kesenjangan antara struktur kognitif individu dengan kenyataan yang
dihadapinya. Jadi, struktur kognisi (kegiatan atau proses untuk memperoleh
pengetahuan) perlu diubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
7. Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan dengan
tepat.
8. Meningkatkan pengetahuan diri atau insight (pencerahan).
9. Meningkatkan hubungan antar pribadi.
10. Terapi kelompok merupakan dapat memberikan kesempatan bagi individu
untuk meningkatkan hubungan antar pribadi ini.
11. Mengubah lingkungan social individu. Terutama terapi yang diperuntukan
untuk anak-anak.
12. Mengubah proses somatic (fisik) supaya mengurangi rasa sakit dan
meningkatkan kesadaran tubuh.
13. Latihan fisik dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran individu.
Seperti : Relaksasi untuk mengurangi kecemasan, yoga, senam, menari dll.
14. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, control, dan
kreativitas diri.
1.4 TUJUAN PSIKOTERAPI
Menurut Huffman, et al,. (1997) ada lima tujuan psikoterapi, yaitu :
1. Pikiran-pikiran kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan secara
khas menderita konfusi, pola-pola pikirian yang destruktif, atau tidak
memahami masalah-masalah mereka sendiri. Para terapis berusaha mengubah
pikiran-pikiran ini dan memberikan ide-ide atau informasi baru, dan
membimbing individu-individu tersebut untuk menemukan pemecahan-pemecahan
terhadap masalah-masalah mereka sendiri.
2. Emosi-emosi yang kalut. Orang-orang yang mencari terapi pada umumnya
mengalami emosi yang sangat tidak menyenangkan. Dengan mendorong pasien
untuk mengungkapkan secara bebas perasaan-perasaan dan memberikan suatu
lingkungan yang menunjang, para terapis membantu mereka menggantikan
perasaan-perasaan tersebut, seperti perasaan putus asa dan perasaan tidak
mampu dengan perasaan-perasaan yang mengandung harapan dan percaya akan
diri sendiri.
3. Tingkah laku-tingkah laku yang kalut. Individu-individu yang mengalami
kesulitan biasanya memperlihatkan tingkah laku-tingkah laku yang mengandung
masalah. Para terapis membantu pasien-pasien mereka menghilangkan tingkah
laku-tingkah laku yang menggangu itu dan membimbing mereka kepada kehidupan
yang lebih efektif.
4. Kesulitan-kesulitan antar pribadi dan situasi kehidupan. Para terapis
membantu pasien-pasien memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga,
teman-teman dan kolega-kolega seprofesi. Mereka juga membantu para pasien
itu menghindari atau mengurangi sumber-sumber stres dalam kehiduapn mereka
seperti tuntutan-tuntutan pekerjaan atau konflik-konflik keluarga.
5. Gangguan-gangguan biomedis. Individu-individu yang mengalami kesulitan
kadang-kadang menderita gangguan-gangguan biomedis yang langsung
menyebabkan atau menambah kesulitan-kesulitan psikologis. Para terapis
membantu menghilangkan masalah-masalah ini pertama-tama dengan obat-obatan,
dan kadang-kadang dengan terapi elektrokonvulsif dan/ atau psikobedah
(psychosurgery). Meskipun kebanyakan terapis bisa bekerja dengan
pasien-pasien dalam beberapa bidang ini, tetapi penekanan berbeda menurut
latar belakang pendidikan terapis. Para psikoanalis, misalnya,
menitikberatkan pikiran-pikiran tak sadar dan emosi; para terapis kognitif
memusatkan perhatian pada pola-pola pikiran dan kepercayaan yang salah;
para terapis humanistik berusaha mengubah respons-respons emosional negatif
dari pasien; para behavioris (sebagaimana terkandung dalam nama itu
sendiri) memusatkan perhatian pada perubahan tingkah laku maladaptif; dan
para terapi yang menggunakan teknik-teknik bio medis berusaha mengubah
gangguan-gangguan psikologis.
B.
KONSELING
2.1 DEFINISI KONSELING
Konseling secara etimologi, berasal dari bahasa latin, yaitu consilium
(dengan atau bersama), yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Dalam
bahasa Anglo saxon, istilah konseling berasal dari sellan, yang berarti
menyerahkan atau menyampaikan. Ada berbagai definisi yang dikemukakan oleh
beberapa para ahli tentang Konseling, diantaranya :
1. Menurut Robinson (1986), konseling adalah semua bentuk hubungan antara
dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu
menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan
lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh
dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan
kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan.
2. Menurut Pepensky & Pepensky (1974), konseling adalah interaksi yang
terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan
klien, terjadi dalam suasana yang profesiona, dilakukan dan dijaga sebagai
alat memudahkan perubahan dalam tingkah laku klien.
3. Menurut Gibson (1981), konseling adalah hubungan tolong menolong yang
berpusat kepada perkembangan dan pertumbuhan seseorang individu serta
penyesuaian dirinya dan kehendaknya kepada penyelesaian masalah, juga
kehendaknya untuk membuat keputusan terhadap masalah yang dihadapinya.
4. Menurut Shertzer & Stone (1974), konseling adalah suatu proses yang
terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu
oleh karena masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang
pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman
membantu orang lain mencapai pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan
pribadi.
5. Menurut Wren (1955), konseling adalah suatu hubungan yang dinamik dan
bertujuan antara konselor dan klien.
Menurut pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Konseling adalah
hubungan antar seorang konselor yang terlatih dengan seorang klien,
bertujuan untuk membantu klien memahamai ruang hidupnya, serta mempelajari
untuk membuat keputusan sendiri melalui pilihan-pilihan yang bermakna dan
yang berasaskan informasi dan melalui penyelesaian masalah-masalah yang
berbentuk emosi dan masalah pribadi.
2.2 CIRI KONSELING
Ada beberapa ciri pokok dalam konseling yaitu :
1. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan
mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan
seksama isi pembicaraan, gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan lain
untuk meningkatkan kepahaman kedua belah pihak yang terlibat dalam
interaksi itu.
2. Model interaksi dalam konseling, terbatas pada dimensi verbal, yaitu
konselor dan klien saling berbicara.
3. Interaksi antara konselor dan klien berlangsung dalam waktu yang relatif
lama dan tearah kepada pencapaian tujuan.
4. Tujuan dari hubungan konseling terjadinya perubahan pada tingkah laku
klien.
5. Konseling merupakan proses dinamis, dimana individu kklien dibantu untuk
dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuannya dalam mengatasi
masalah yang sednag dihadapi.
6. Konseling didasari atas penerimaan konselor secara wajar tentang diri
klien, atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.
2.3 FUNGSI KONSELING
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli
agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini,
konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor
untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan
berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui
fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara
menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi,
dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada
para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak
diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan
obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya
lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi
perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara
sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan
melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam
upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik
bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial,
diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.
4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat
kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada
konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah
konseling, dan remedial teaching.
5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu
konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan
memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat,
keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini,
konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar
lembaga pendidikan.
6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala
Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program
pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan
kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai
konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan
konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi
Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun
bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu
konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara
dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu
konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan
dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan
perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat,
rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan
mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang
seluruh aspek dalam diri konseling.
10. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi
kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi
konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan
produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui
program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai
dengan minat konseling.
2.4 TUJUAN KONSELING
Selain tujuan konseling yang tercantum dalam prinsip konseling diatas, ada
beberapa ahli yang mengemukakan tujuan konseling, antara lain :
1. Menurut Willis, konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang
pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang
membutuhkannya, agar berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi
masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu
berubah. Menurutnya, dalam era global dan pembangunan saat ini, konseling
bukan saja bersifat klinis-psikologis, tapi harus lebih menekankan pada
pengembangan potensi individu yang terkandung didalam dirinya, baik
intelektual, afektif, sosial, emosional, dan religius; menjadikannya
sebagai individu yang akan berkembang dengan nuansa yang lebih bermakna,
harmonis, sosial, dan bermanfaat. Dengan demikian, ada perubahan
konsepsional antara pengertian konseling lama dengan konseling baru, dimana
konseling bukan saja bersifat klinis, tapi juga bersifat preventif dan
pengembangan individu.
2. Menurut Prof. Rosjidan, ada tiga kategori yang bisa dicatat dalam
hubungannya dengan tujuan-tujuan sebuah konseling. Tujuan khusus ini
meliputi :
a. Merubah tingkah laku yang terganggu
b. Mempelajari tingkah laku yang terganggu,
c. Mencegah problem-problem.
3. Corey (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996) mengelompokan tujuan-tujuan
konseling menjadi :
a. Reorganisasi kepribadian
b. Menemukan makna dalam hidup
c. Penyembuhan ganguan emosional
d. Penyesuaian terhadap masyarakat
e. Pencapaian aktualisasi (perwujudan) diri
f. Peredaan kecemasan
g. Penghapusan perilaku maladaptif (sulit untuk menyesuaikan diri)
h. Belajar pola-pola perilaku adaptif
4. Shertzer dan stone (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996) membuat
pengelompokan yang lebih sederhana mengenai tujuan konseling, meliputi :
a. Perubahan perilaku
b. Kesehatan mental yang positif
c. Pemecahan masalah
d. Keefektifan pribadi
e. Pengambilan keputusan
C.
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING
3.1 PERSAMAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING
1. Konseling dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk
membantu/memberikan layanan pada individu-individu mengenai permasalahan
yang bersifat psikologis.
2. Konseling dan Psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada klien
untuk suatu perubahan tingkah (behavioral change), kesehatan mental positif
(positive mental health), pemecahan masalah (problen solution), keefektifan
pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision
making).
3. Konseling dan psikoterapi membantu dan memberikan perubahan, perbaikan
kepada klien (yaitu, eksplorasi-diri, pemahaman-diri, dan perubahan
tindakan/perilaku) agar klien dapat sehat dan normal dalam menjalani hidup
dan kehidupannya.
4. Konseling dan psikoterapi merupakan bantuan yang diberikan dengan
mencoba menghilangkan tingkah laku merusak-diri (self-defeating) pada
klien.
5. Psikoterapi maupun konseling memberikan penekanan pentingnya
perkembangan dalam pembuatan keputusan dan ketrampilan dalam pembuatan
rencana oleh klien.
6. Pentingnya saling-hubungan antara klien dan psikoterapis ataupun
konselor disepakati sebagai suatu bagian integral dalam proses psikoterapi
maupun konseling. Jadi, inti dari konseling dan psikoterapi adalah bantuan
kepada klien melalui hubungan yang bersifat positif dan membangun.
7. Konselor sering mempraktekkan apa yang oleh psikoterapis dipandang
sebagai psikoterapi dan psikoterapis sering mempraktekkan apa yang oleh
konselor dipandang sebagai konseling.
3.2 PERBEDAAN KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
Apabila kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut psikoterapi
menurut Wolberg (1954), Psikoterapi adalah suatu bentuk (perawatan atau
perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor
emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan
profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu
simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu
pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi
secara lebih positif.
Sedangkan konseling menurut Robinson (1986), konseling adalah semua bentuk
hubungan antara dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih
mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan
lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh
dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan
kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah
sifatnya emosional dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang
mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan
simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien
dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian ke arah yang
positif.
a. Konseling
1. Berpusat pandang masa kini dan masa yang akan datang melihat dunia
klien.
2. Klien tidak dianggap sakit mental dan hubungan antara konselor dan klien
itu sebagai teman yaitu mereka bersama-sama melakukan usaha untuk
tujuan-tujuan tertentu, terutama bagi orang yang ditangani tersebut.
3. Konselor mempunyai nilai-nilai dan sebagainya, tetapi tidak akan
memaksakannya kepada individu yang dibantunya konseling berpusat pada
pengubahan tingkah laku, teknik-teknik yag dipakai lebih bersifat
manusiawi.
4. Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan berjangka
pendek.
5. Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan
konkret.
b. Psikoterapi
1. Berpusat pandang pada masa yang lalu-melihat masa kini individu.
2. Klien dianggap sebagai orang sakit mental dan ahli psikoterapi (terapis)
tidak akan pernah meminta orang yang ditolongnya itu untuk membantu
merumuskan tujuan-tujuan.
3. Terapis berusaha memaksakan nilai-nilai dan sebagainya itu kepada orang
yang ditolongnya.
4. Psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar,
dan berjangka panjang.
5. Psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang
berubah-ubah dan berkembang terus.
Selain itu, ada dua perbedaan antara Piskoterapi dengan Konseling, yaitu:
1. Istilah psikoterapi lebih sering digunakan untuk klien atau pasien yang mengalami masalah berat, tetapi konseling hanya membantu gangguan yang kurang serius dan biasanya dilakukan di dalam pendidikan.
2. Psikoterapi dan konseling dilakukan atas permintaan klien atau pasien, sedangkan bimbingan dapat dilakukan tanpa diminta.
1. Istilah psikoterapi lebih sering digunakan untuk klien atau pasien yang mengalami masalah berat, tetapi konseling hanya membantu gangguan yang kurang serius dan biasanya dilakukan di dalam pendidikan.
2. Psikoterapi dan konseling dilakukan atas permintaan klien atau pasien, sedangkan bimbingan dapat dilakukan tanpa diminta.
Pallone (1977) dan Patterson (1973) menyimpulkan perbedaan konseling dan
psikoterapi yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut
:
PSIKOTERAPI
|
KONSELING
|
| Pasien. | Klien. |
| Gangguan yang serius. | Gangguan yang kurang serius. |
| Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan. | Masalah ; Jabatan, Pendidikan, dsb. |
| Berhubungan dengan penyembuhan. | Berhubungan dengan pencegahan. |
| Lingkungan medis. | Lingkungan pendidikan dan non medis. |
| Berhubungan dengan ketidaksadaran. | Berhubungan dengan kesadaran. |
| Jangka panjang. | Jangka pendek. |
Dari berbagai perbedaan dilihat dari berbagai aspek-aspeknya antara konseling dan psikoterapi, maka lebih jelasnya dapat disimpulkan sebagaimana tabel berikut :
PERBEDAAN
|
PSIKOTERAPI
|
KONSELING
|
| Jenis bantuan | Bantuan psikis | Bantuan non material (bantuan psikologis). |
| Pihak yang terlibat | - Para ahli kejiwaan.
- Individu yang mengalami gangguan kejiwaan (kesehatan mentalnya terganggu). |
- Konselor.
- Konseli. |
| Tujuan | Menyembuhkan atau menghilangkan gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien. | - Pemahaman diri.
- Penerimaan diri. - Pengelolaan diri. - Mengoptimalkan potensi dan kemampuan konseli. - Pemecahan masalah. - Aktualisasi diri. - Mengubah KES T (Kehidupan Efektif Sehari-hari Terganggu) menjadi KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari). |
| Proses | - Menggunakan obat penenang.
- Berkelanjutan hingga gangguan kejiwaan hilang. |
- Wawancara konseling sebagai alat utama.
- Berkelanjutan. - Normatif. |
| Tahapan | Mengikuti tahapan dokter spesialis gangguan kejiwaan. | - Membina hubungan baik (rapport).
- Explorasi masalah. - Merumuskan tujuan. - Merencanakan bantuan. - Evaluasi, tindak lanjut. |
| Hasil (Output) | Gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien hilang (sembuh). | - Individu yang mandiri.
- Mencapai KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari). - Terpecahkannya suatu masalah yang dihadapi individu. |
D. DAFTAR PUSTAKA
Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta : Kanisius.
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : BPK
Gunung Mulia
Slamet, S & Markam, S. (2003). Pengantar psikologi klinis. Jakarta : UI Press
ANALISIS FILM THE AVIATOR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita
semua memiliki gaya berperilaku dan cara tertentu dalam berhubungan dengan
orang lain. Beberapa dari kita lebih memilih mengerjakan tugas sendiri, yang
lain lebih social. Beberapa dari kita tipe pengikut, yang lain pemimpin.
Beberapa dari kita terlihat kebal terhadap penolakan dari orang lain, sementara
yang lain menghindari insiatif social karena takut dikecewakan. Saat pola
perilaku menjadi begitu tidak fleksibel atau maladaptive sehingga dapat
menyebabkan distress personal yang signifikan atau mengganggu fungsi social dan
pekerjaan, maka pola perilaku tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan
kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan
sebagai gabungan emosi dan tingkah laku yang membuat individu memiliki
karakteristik tertentu untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Kepribadian
individu relatif stabil dan memungkinan oarng lain untuk memprediksi pola pikir
atau tindakan yang akan diambilnya.
Individu dikatakan mengalami
gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku
maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut
muncul pada setiap situasi serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari.
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan
gangguan kepribadian cemas atau takut yang ditandai oleh pola terjebak dengan
keteraturan yang sangat kuat, perfeksionisme, dan kontrol mental serta
interpersonal dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan dan efisiensi. Obsesif
kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah pikiran-pikiran,
bayangan-bayangan atau dorongan-dorongan intrusive dan kebanyakan tidak masuk
akal yang dicoba ditolak atau dieliminasi oleh individu. Sedangkan kompulsi
adalah pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan yang digunakan untuk menekan
obsesi dan membuat individu merasa lega. Gangguan obsesif kompulsif dapat
dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi
dapat menghabiskan waktu dan mengganggu rutinitas normal seseorang, fungsi
pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman atau
anggota keluarga.
The Aviator merupakan
sebuah film drama yang berbentuk biografi. Film ini mengangkat kisah perjalanan
hidup seorang Howard Hughes yang terkenal sebagai pelopor dan perintis
penerbangan dunia. Film yang disutradarai oleh Martin Scorsese dan dibintangi
oleh Leonardo DiCaprio ini, mengambil tema tentang kehidupan Howard Hughes dari
tahun 1920an sampai 1947.
Saat tersebut adalah saat-saat perjuangan
Howard Hughes mencapai kesuksesan sebagai produser film dan tokoh terkemuka di
bidang penerbangan, serta ketidak berdayaannya menghadapi kenyataan bahwa ia
menderita kelainan, yang kemudian dikenal sebagai obsessive-compulsive
disorder. Oleh karena sebab diatas, penulis merasa tertarik dan memutuskan
untuk menganalisis tentang obsessive-compulsive disorder.
B. Rumusan Masalah
Dalam
membuat sebuah makalah harus ada batasannya agar penjelasan yang akan
disampaikan menjadi lebih efektif. Disamping itu, pembatasan masalah perlu
dilakukan dengan maksud untuk memfokuskan pembahasan sehingga permasalahan yang
diangkat dapat diulas lebih terperinci dan terhindar dari penguraian panjang
yang tidak terkait dengan permasalahan yang akan diteliti. Pembatasan masalah
pada penelitian ini meliputi aspek ekstrinsik, yaitu meliputi teori-teori yang
berhubungan dengan OCD (obsessive-compulsive disorder).
C. Tujuan
1.
Untuk menganalisis gejala OCD yang terjadi pada tokoh
Howard Hughes.
2.
Untuk menganalisis penyebab OCD yang terjadi pada
tokoh tersebut.
3.
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan
Mental.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Judul Film
Ø Judul
film
: The Aviator
Ø Sutradara
: Martin Scorsese
Ø Produser
: Michael Mann, Sandy Climan, Graham King, Charles Evans, Jr.
Ø Tahun
rilis
: 2004
Ø Genre
: Drama/ Biografi
B. Deskripsi
Tokoh dalam Film
1. Howard Hughes
Tokoh utama pria yang berprofesi sebagai sutradara
yang terobsesi dengan segala hal yang berhubungan dengan penerbangan. Ia pun
mahir mengendarai pesawat terbang. Film yang disutradarai berhasil membawanya
menjadi pria Amerika yang sukses hingga akhirnya ia mengalami gangguan jiwa.
2. Katherine Hepburn
Seorang aktris cantik yang sukses dan dicintai Hughes.
Mereka berdua hidup bersama di sebuah rumah hingga akhirnya Hepburn dapat
mengetahui bahwa Hughes memiliki beberapa penyimpangan kejiwaan. Meskipun
begitu, ia tetap menyayangi Hughes.
3. Noah Dietrich
3. Noah Dietrich
Menjadi kaki tangan Hughes disegala hal, terutama
mengenai keuangan. Meskipun demikian, seringkali Noah kebingungan saat Hughes
mengeluhkan hal-hal kecil sebagai gejala gangguan kejiwaannya juga saat
pendapat-pendapatnya tidak diterima disaat keuangan Hughes dalam ancaman.
4. Juan Trippe
Direktur dari penerbangan Pan Am yang berkeinginan
untuk menguasai seluruh penerbangan di Amerika. Demi terwujudnya seluruh
keinginan, ia mampu bertindak kotor dengan cara menjatuhkan Hughes dengan
segala cara yaitu bekerja sama dengan seorang senator Brewster. Ia pun giat untuk
menarik simpati dari wanita yang Hughes cintai, Hepburn untuk menghancurkan
hati Hughes.
5. Owen Brewster
Senator yang bekerja sama dengan Juan Trippe dalam
membuat persekongkolan untuk menjatuhkan Hughes sehingga penerbangan Pan Am
dapat berjaya tunggal di Amerika. Kemenangannya sebagai senator pun terjadi
akibat pemilu kotor yang dirancang oleh Juan.
C. Sinopsis dan Penokohan dalam Film “The Aviator”
Howard Hughes (Leonardo
DiCaprio) adalah seorang pengusaha sukses asal Texas. Dia adalah sutradara film-film
epik besar pertama sejak jaman film bersuara, Hell’s Angels yang sempat
mencetak film termahal dunia dan film western pamer payudara, The Outlaw. Dia
juga merupakan produser film yang paling terkenal adalah Scarface versi asli
tahun 1932 dengan sutradara Howard Hawks. Kecintaannya terhadap penerbangan
membuatnya dirinya bangga dijuluki Sang Penerbang. Film ini menceritakan karir
Howard yang penuh pertaruhan besar dalam perfilman maupun industri pesawat,
kisah cintanya yang penuh petualangan, dan penyakit yang dideritanya.
The Aviator lebih bercerita tentang siapa itu Howard Hughes, bukan
bagaimana pengaruh Howard Hughes. Satu bagian mengerikan ketika penyakit Hughes
mulai kumat. Dia menyendiri dalam kamar yang ditempati dan mulai mengkhayal satu
monolog tentang susu yang terletak di kamarnya. Howard terlalu khawatir dengan
kebersihan walaupun dirinya sendiri tidak 100% higienis. Betapa tertekannya
Tuan Hughes, ia memiliki uang milyaran dollar
tetapi tidak berani menyentuh gagang pintu.
The
Aviator menceritakan tentang karir Hughes sebagai seorang sutradara. Dia membuat
film pesawat perang dunia pertama Hell’s Angels selama dua tahun.
Pesawat-pesawatnya sangat mahal dan yang memancing kontroversi bagi
petinggi-petinggi studio, dia sudah memakai 24 kamera untuk adegan klimaksnya,
dan masih perlu dua lagi! Untungnya film yang disutradari Howard terbilang
sukses. Selanjutnya, The Aviator
mulai memasuki konflik utama filmnya yaitu dalam penerbangan.
Hughes
digambarkan sebagai pria ambisius dan penuh semangat ketika Hughes remaja. Jiwa
berpetualangnya itu memikat hati Katharine Hepburn. Diakui oleh mereka, jiwa
seorang Hughes berbeda dengan Hepburn yang “hanya” seorang bintang film.
Hubungan mereka tidak bisa berlangsung lama. Sampai Hepburn berpasangan dengan
Spencer Tracy seperti yang kita ketahui bersama. Tidak semua orang juga suka
sifat Hughes yang eksentrik dan playboy itu.
Sesuai judulnya, masalah
terbesarnya datang dengan pertaruhan terhadap proyek besar-besarannya tentang
model pesawat-pesawat penemuannya. Noah Dietrich (John C. Reilly) adalah banker
Hughes. Hughes membayarnya lebih banyak agar Dietrich bekerja lebih keras.
Sebenarnya Dietrich justru dipakai sebagai mesin penjawab dan kalkulator saja.
Begitu juga dengan professor (Ian Holm), seseorang yang bertugas mencarikan
awan untuk Hell’s Angels dan ikut memperjuangkan The Outlaw itu. Sebagai tokoh
“antagonis” Senator Owen Brewster (Alan Alda) dan ketua An Am, Juan Trippe
(Alec Baldwin), mereka berdua juga tampil bersinar. Merancang hotel terbang
seperti Hercules itu membutuhkan perjuangan. Hughes sempat dituduh mengambil
keuntungan dari perang.
Satu hal yang sedikit
mengganjal adalah endingnya. Hughes adalah tipikal orang kaya yang bukan orang
kaya. Dia kerap mengulang-ulang omongannya dan akan sangat memalukan jika orang
melihatnya seperti itu. Ini adalah film tentang siapa itu Howard Hughes bukan
apa yang dilakukan Howard Hughes.
D. Analisis Kasus
Disini, Howard tidak
terlalu diceritakan masa lalunya, hanya di awal-awal film diperlihatkan seorang
Howard kecil yang sedang dimandikan oleh ibunya, padahal anak tersebut bukan
lagi anak kecil yang masih harus dimandikan oleh ibunya (late childhood). Saat menyabuni Howard kecil, Ibunya memberi
sugesti kepadanya bahwa dunia luar itu jahat, dia tidak aman berada disana, dan
ibunya selalu mengajari Howard mengeja kata “QUARANTINE (kamu tidak
aman)”, pada saat membersihkan dirinya. Howard dibesarkan dari keluarga yang
terlalu mementingkan kebersihan, Howard tumbuh menjadi orang yang sangat
higienis dan cemas apabila dirinya terkena kotoran.
Sekarang Howard adalah
seorang produser sekaligus sutradara film sekaligus pembuat pesawat terbang.
Dimana segala yang ia mau harus didapat dan apa yang ia kerjakan hasilnya harus
sempurna. Semua karyawan Howard haruslah bersih, seperti memakai sarung tangan
apabila sedang bekerja, dan apabila ada karyawannya yang terlihat tidak bersih,
seperti seorang kakek yang ada dibagian kebersihan yang mempunyai kuku yang
kotor, Howard tidak segan-segan untuk memecatnya. Howard sangat tidak suka dan
jijik apabila melihat orang lain yang tidak memperhatikan kebersihan atau
badannya kotor. Howard juga merasa sangat tidak nyaman jika harus bersentuhan
dengan orang yang tidak ia sukai (musuh), apabila bersentuhan ia akan segera
mencuci tangannya berulang-ulang kali dengan menggunakan sabun yang sama dengan
sabun yang biasa ibunya pakai untuk membersihkan tubuhnya dan sampai-sampai
tangannya pun terluka karena Howard terlalu keras mencuci tangannya.
Bahkan apabila ia membenci
sesorang (putus dari kekasihnya), ia tidak segan-segan untuk membakar semua
bajunya yang pernah disentuh oleh orang tersebut. Ia melakukan itu karena
menganggap semua itu kotor dan ia harus bersih dari kotoran-kotoran tersebut.
Semakin ia merasa cemas atau merasa tertekan atas ketidak bersihan lingkungan
disekitarnya, tingkah laku tersebut semakin menjadi yaitu terus mencuci tangan
atau mengelap tangannya secara berulang-ulang, mengucapkan sesuatu secara
berulang-ulang, atau pun mengeja kata “QUARANTINE” secara berulang-ulang,
sampai-sampai ia harus menutup mulutnya sendiri.
a)
Howard
mempunyai gangguan OCD yang
neurosis karena :
1.
Ada kecemasan
Howard
merasa cemas karena sejak kecil Howard selalu di ajarkan oleh Ibunya bahw dunia ini tidak aman baginya, oleh karena
itu Howard selalu menanamkan kata yang diucapkan
oleh Ibunya sehingga Howard tumbuh menjadi anak yang penuh dengan kecemasan.
2.
Dia sadar tingkah lakunya itu konyol tapi tetap tidak
bisa berhenti.
Ketika
penyakit yang dia idap kambuh, dia tidak dapat mengontrol kata-kata dan tingkah lakunya tetapi ia menyadari bahwa apa
yang dia lakukan itu konyol, terlihat ketika
Howard di perhatikan oleh tiga orang yang tidak ia kenal seketika Howard melakukan tingkah laku yang tidak wajar.
3.
Terobsesi dengan keadaan yang serba higienis.
Terlihat
ketika Howard menegur bawahannya karena ruang teater miliknya dipenuhi oleh debu. Dia juga tidak segan-segan
untuk memecat bawahannya karena dia menginginkan
ruangan yang serba higienis, selain itu Howard kadang kala membuka gagang pintu dengan kain atau benda
lainnya.
4.
Mengucapkan sesuatu secara berulang.
Ketika
gangguan kepribadiannya muncul Howard akan mengucapkan sesuatu secaraberulang, misalnya saja mengucapkan kata
“It’s my future” sampai-sampai ia
tidak bisa mengontrol kata-kata yang dia
keluarkan.
5.
Membersihkan badannya & mencuci tangannya secara
berulang
Terlihat
pada saat Howard mencuci tangannya secara berulang karena dia merasa dirinya tidak higienis sampai-sampai tangannya
berdarah.
6.
Mengeja kata “QUARANTINE”
Terlihat
pada saat Howard tidak dapat mengontrol dirinya dan selalu mengigat dan mengeja kata tersebut dan tidak dapat
berhenti.
b) Simtom-Simtom Yang Muncul :
· Cenderung Perfeksionis : Segala
sesuatu yang diinginkan Howard haruslah detail, seperti halnya ketika Howard mensutradari film, Howard menginginkan
awan, maka dari itu Howard meminta untuk dicarikan awan dan bagaimana pun caranya awan itu harus ada. Selain itu Howard sangat memperhitungkan paku-paku
dalam pesawat yang ia buat.
· Terobsesi Pada Kebersihan : Terlihat saat Howard Hughes berulang kali mencuci
tangannya, bahkan pada suatu adegan ia mencuci tanganya sampai berdarah.
· Sangat memperhatikan detail kecil, bahkan kadang-kadang
yang tidak penting sekalipun. Terlihat ketika mengecek bagian pesawat yang dianggap
ada sesuatu yang masih kurang dan terus memberi instruksi kepada bawahannya
agar terus memperbaiki sesuai dengan keinginannya.
· Mengalami kompulsi yakni ketika Howard mengucapkan “show me all blue print” ia tidak dapat
mengontrolnya dan terlihat sangat menyiksa dirinya. Adegan ini dapat dilihat ketika penyakit Howard kambuh
dan ia akan berulang-ulang kali mengucapkan dan dirinya tidak dapat mengontrol
ejaan yang keluar dari mulutnya.
c)
Simtom-Simtom
Tersebut Muncul Karena :
·
Menginginkan sesuatu yang sempurna tanpa cela sedikitpun.
Apa pun yang Howard inginkan haruslah tercapai
bagaimanapun caranya, apabila yang ia inginkan tercapai Howard akan membayar
mahal orang tersebut.
· Hasil learning
semasa kecil yang terus menerus dipelajari dan diyakini sebagai suatu
kebenaran. Semasa Howard kecil ia selalu di ajarkan mengeja kata
“QUARANTINE” dan selalu menanamkan di dalam dirinya kalau di dunia ini tidak
aman.
·
Kekakuan berpikir, kurangnya konformitas.
Howard merupakan pria yang berbeda daripada pria
kebanyakan, hal ini disampaikan oleh Kate yang merupakan kekasih Howard. Kate
sangat benci ketika Howard berperilaku aneh dan tidak wajar.
·
Ekspresi emosi yang tertahan, fiksasi atau agresi pada
fase oral.
d) Tipe Penyakit OCD yang di Alami Howard
Washers
& Cleaners adalah orang-orang yang takut akan terkontaminasi
sesuatu seperti kuman, kotoran, ataupun penyakit. Untuk membuat mereka yakin
tidak terkontaminasi, mereka akan melakukan hal-hal selama mungkin setelah
bersentuhan dengan sesuatu. Contohnya dengan mandi dengan waktu yang lama,
mencuci tangannya beruang-ulang, atau membersihkan rumah selama berjam-jam. Itu
mereka lakukan sampai mereka yakin bahwa mereka telah aman dari kuman, kotoran,
ataupun penyakit.
E. Teori tentang OCD (Obsesif Complusif Disorder)
a.
Pengertian
Obsesive Compulsive
Disorder (OCD), merupakan sejenis gangguan kecemasan, yaitu penyakit yang
berpotensi mengganggu serta memerangkap orang dalam siklus pikiran dan perilaku
yang berulang. Orang dengan OCD ini terganggu oleh stres, ketakutan atau
bayangan yang berulang (obsesi) yang tidak dapat mereka kendalikan.
Kecemasan/kegelisahan yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran tersebut mengarahkan
mereka pada kebutuhan mendesak untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu (compulsion). Ritual kompulsif ini
dilakukan dalam upaya untuk mencegah pikiran obsesif atau membuat pikiran
tersebut hilang.
Meskipun ritual ini
dapat mengurangi kecemasan untuk sementara, namun orang tersebut harus
melakukan ritualnya lagi ketika pikiran obsesif datang kembali. Siklus OCD
dapat menyita waktu yang sangat banyak dan secara signifikan mengganggu
aktivitas normal. Penderita OCD mungkin menyadari bahwa pikiran tersebut adalah
obsesi dan dorongan yang tidak masuk akal atau tidak realistis, tetapi mereka
tidak mampu menghentikannya.
.
.
Ø Obsesi adalah
pikiran, impuls,dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan
sendirinya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak
selalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. Secara klinis, obsesi
yang paling banyak terjadi berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi ,
ketakutan mengekspresikan impuls seksual atau agresif, dan ketakutan
hipokondrial akan disfungsi tubuh (Jenike, Baer & Minichiello,1986). Obsesi
juga dapat berupa keragu-raguan ekstrem, prokrastinasi, dan ketidaktegasan.
Ø Kompulsi adalah
perilaku atau tindakan mental repetitif yang mana seseorang merasa didorong
untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan
pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana. Aktivitas
tersebut tidak berhubungan secara realistis dengan tujuan yang ada atau jelas
berlebihan. Frekuensi pengulangan suatu tindakan, fisik atau mental, dapat luar
biasa tinggi. Kompulsi sering dianggap oleh pelaku sebagai sesuatu yang tidak
berasal dari dirinya (ego distonik). Stern dan Cobb (1978) menemukan bahwa 78%
dari sampel individu kompulsif memandang ritual mereka sebagai “cukup bodoh
atau aneh” walaupun mereka tidak mampu menghentikannya.
Ø Obsesif
Kompulsi merupakan suatu gangguan anxietas di mana pikiran
dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan
individu dipaksa untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan
distress yang signifikan dan mengganggu keberfungsian sehari-hari.
b.
Landasan Teori
Ø Teori Psikoanalisis
Dalam teori psikoanalisis, obsesi
dan kompulsi dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan
instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet
training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi
pada tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil
perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan; kadangkala insting agrasif id
mendominasi, kadangkala mekanisme pertananan yang mendominasi. Namun demikian,
lebih sering simtom-simtom yang muncul mencerminkan bekerjanya salah satu
mekanisme pertahanan yang hanya separuh berhasil. Sebagai contoh,
seseorang yang terfiksasi pada tahap anal dapat melalui formasi reaksi
menahan dorongan untuk berkotor-kotor dan secara kompulsig menjadi rapi,
bersih, dan teratur. Alfred Adler
(1931) memandang gangguan obsesif kompulsif sebagai akibat dari rasa tidak
kompeten.
Dia percaya bahwa ketika anak-anak
tidak terdorong untuk mengembangkan suatu perasaan kompeten oleh orang tua yang
terlalu memanjakan atau sangat dominan. Mereka mengalami kompleks inferioritas
dan secara tidak sadar dapat melakukan ritual kompulsif untuk menciptakan suatu
wilayah dimana mereka dapat menggunakan kendali dan merasa trampil. Adler
berpendapat bahwa tindakan kompulsif memungkinkan seseorang sangat terapil
dalam suatu hal, bahkan jika suatu hal itu hanya berupa posisi
menulis di meja.
Ø Teori
Behavior dan Kognitif.
Teori
behavior menganggap kompulsi sebagai sesuatu yang dipelajari yang dikuatkan
oleh reduksi rasa takut (meyer &chesser, 1970). Mencuci tangan secara
kompulsi dipandang sebagai respon pelarian operant yang
mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh
kotoran dan kuman. Sejalan dengan itu, pengecekan secara kompulsif dapat
mengurangi kecemasan terhadap apapun bencana yang diantisipasi pasien jika
ritual pengecekan tersebut tidak dilakukan.
Kecemasan sebagaimana diukur
melalui self report (Hudgson & Rachman, 1972) dan
respon-respon psikofisiologis (Carr, 1971) memang dapat dikurangi dengan
perilaku kompulsif semacam itu. Dalam kerangka kerja ini, tindakan kompulsi
sangat sering muncul karena stimuli yang menimbulkan kecemasan sulit disadari.
Sebagai contoh, sulit untuk mengetahui kapan kuman muncul dan kapan kuman
tersebut telah dihilangkan oleh ritual pembersihan (mineka & Zimbarg,
1996).
Pemikiran lain mengenai pengecekan
secara kompulsif adalah bahwa hal itu disebabkan oleh defisit memori.
Ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan secara akurat (seperti mematikan
kompor) atau membedakan antara perilaku aktual dan perilaku yang dibayangkan
(“mungkin saya hanya berfikir telah mematikan kompor”) dapat membuat seseorang
berulang kali melakukan pengecekan. Namum demikian, sebagian besar studi
menemukan bahwa penderita OCD, gangguan panik, dan orang-orang normal pada tes
mengenai informasi umum. Tidak ada perbedaan diantara ketiga kelompok dalam
jumlah jawaban benar. Namun demikian, para pasien penderita OCD kurang yakin
dengan jawaban mereka dibanding kelompok normal (Dar dkk., 2000).
Dengan demikian bila memori relevan
dengan OCD, tampaknya hanya merupakan masalah keyakinan terhadap memori
seseorang dan bukan memori itu sendiri.
Ø Faktor
Biologis.
Encefalitis,
cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan dengan terjadinya gangguan
obsesif-kompulsif (Jenike, 1986). Ketertarikan difokuskan pada dua area otak
yang dapat terpengaruh oleh trauma semacam itu, yaitu lobus
frontal dan ganglia basalis, serangkaian
nukleisub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus pallidus, dan
amygdala. Studi pemindaian dengan PET menunjukkan peningkatan aktivasi
pada lobus frontalis pasien OCD, mungkin mencerminkan
kekhawatiran mereka yang terlebih terhadap pikiran mereka sendiri. Fokus pada
ganglia basalis, suatu sistem yang berhubungan dengan pengendalian perilaku
motorik, disebabkan oleh relevansinya dengan kompulsi dan juga dengan hubungan
antara OCD dan sindrome tourrete.
Sindrom Tourette ditandai oleh tics
motorik dan vokal dan dikaitkan dengan disfungsi ganglia basalis.
Pasien yang menderita Tourette sering kali juga menderita OCP (Sheppard dkk.,
1999). Gangguan obsesif kompulsif sering kali dipahami sebagai gangguan
genetik (Jonnal, Gardner, Prescott, & Kendler, 2000; Pato, Schindler, &
Pato, 2001) yang merefleksikan abnormalitas dalam basal ganglia, area
subkortikal pada otak yang melibatkan pengendalian general motorik. Secara
spesifik, sistem yang melibatkan glutamat, dopamin, serotonin, dan asetikolin
dapat terlibat, mempengaruhi fungsi dari korteks prafrontal (Carlsson, 2001).
Oleh karena itu, sirkuit pada otak yang menghubungkan daerah subkortikal dan
kortikal yang berfungsi untuk menghambat prilaku tampaknya bekerja secara
abnormal pada gangguan ini (Saxena & Rauch, 2000). Salah satu penjelasan yang mungkin adalah OCD disebabkan oleh
suatu sistem neurotransmiter yang berpasangan sengan serotonin; bila
dipengaruhi antidepresian, sistem serotonin menyebabkan perubahan pada sistem
lain tersebut, yang merupakan lokasi sebenarnya dari efek terapeutik (Barr
dkk., 1994). Dopamin dan setikolin diperkirakan
merupakan transmiter yang berpasangan dengan serotonin dan memiliki peran yang
lebih penting dalam GOK (Rauch & Jenike, 1993). Terdapat beberapa bukti
atas kontribusi genetik pada OCD. Tingkat kejadian gangguan anxietas yang
tinggi muncul pada kerabat tingkat pertama pasien penderita OCD (McKeon &
Murray, 1987). Prevalensi OCD juga lebih tinggi pasa kerabat tibgkat pertama
kasus-kasus OCD dibanding pada kerabat kelompok kontrol (Nestadt dkk., 2000).
Dengan demikian, merupakan suatu kemungkinan bahwa faktor-faktor biologis
memicu terjadinya gangguan ini pada sementara orang.
Ø Mowre’s Two Stage Theory
Mowrer mengajukan teori ini di tahun
1939 dan dikembangkan oleh Dollard dan Miller di tahun 1950. Gangguan obsesi
kompulsi ini didapat secara dua tahap. Tahap pertama adalah adanya rangsangan
yang menimbulkan kecemasan. Reaksi yang timbul adalah menghindari (escape)
atau menolak (avoidance). Respon-respon ini menimbulkan negative
reinforcement akibat berkurangnya rasa cemas.
Tahap berikutnya adalah upaya
menetralisasi kecemasan yang masih ada dengan rangkaian kata-kata,
gagasan-gagasan atau bayangan-bayangan bahkan objek-objek lain. Penyebarluasan
ini mengaburkan asal-usul rangsangan tadi. Kecemasan terhadap suatu objek tadi
sudah meluas menjadi perasaan tidak enak atau tidak menentu. Sebagai
kompensasinya penderita menentukan strategi perilaku yang enak baginya dan
perilaku ini menetap menjadi kompulsif akibat negative reinforcement.
Tahap kedua, banyak berkurangnya
tetapi sedikitnya dapat menerangkan kenapa kompulsi bertahan sebagai alat
mengurangi rasa cemas.
Ø Cognitive Behaviour Therapy
Oleh Carr tahun 1971 dan
dikembangkan oleh McFall dan Wollensheim tahun 1979. Teori ini mengatakan bahwa
gangguan obsesi kompulsif pada oran-orang tertentu di “kreasi” oleh dirinya
sendiri. Prinsip yang salah, menimbulkan persepsi yang keliru dan menakutkan,
akhirnya menambahkan kecemasan. Pencetusnya bisa disebabkan oleh kejadaian
sehari-hari.
F. Gejala OCD (Obsesif Complusif Disorder)
Gejala-gejala Obsessive Compulsive Disorder dapat bervariasi. Gejala obsesi yang umumnya ditemukan adalah:
-Takut kotor atau terkontaminasi oleh kuman.
-Takut mencelakai orang lain.
-Takut membuat kesalahan.
-Takut malu atau berperilaku sosial yang tidak dapat diterima masyarakat.
-Takut berpikir jahat atau berdosa.
-Perlu kerapian, seimbang atau ketepatan.
-Keraguan yang berlebihan dan kebutuhan untuk selalu dipercayai.
Gejala-gejala Obsessive Compulsive Disorder dapat bervariasi. Gejala obsesi yang umumnya ditemukan adalah:
-Takut kotor atau terkontaminasi oleh kuman.
-Takut mencelakai orang lain.
-Takut membuat kesalahan.
-Takut malu atau berperilaku sosial yang tidak dapat diterima masyarakat.
-Takut berpikir jahat atau berdosa.
-Perlu kerapian, seimbang atau ketepatan.
-Keraguan yang berlebihan dan kebutuhan untuk selalu dipercayai.
Sedangkan gejala kompulsi meliputi:
-Berulang
kali mandi, siram atau mencuci tangan.
-Menolak untuk
berjabat tangan atau menyentuh pegangan pintu. -Berulang kali memeriksa hal-hal yang sama, seperti kunci atau kompor.
-Terus berhitung, baik di dalam pikiran atau diucapkan dengan keras sambil melakukan tugas-tugas rutin.
-Mengatur barang-barang dengan cara tertentu secara terus-menerus.
-Mengkonsumsi makanan dalam urutan tertentu.
-Terjebak pada kata-kata, gambar atau pikiran, yang biasanya mengganggu, sehingga dapat mengganggu waktu tidur.
-Mengulangi kata-kata, kalimat atau doa tertentu.
-Melakukan tugas yang sama berkali – kali.
-Mengumpulkan atau menimbun barang tanpa nilai yang jelas/berarti.
G. Tipe-Tipe Penyakit OCD (Obsesif Complusif Disorder)
1. Checkers
Seseorang yang menderita jenis ini adalah seseorang
yang selalu mengecek apapun secara berulang-ulang hingga dia merasa keadaan
telah aman. Orang tersebut melakukan semua itu dengan tujuan untuk menghindari
terjadinya sesuatu yang tidak baik. Beberapa kebiasan checkers adalah
memastikan apakah kompor sudah mati atau apakah pintu sudah dikunci atau hal-hal
lain yang sekiranya akan membahayakan.
2. Washers & Cleaners
2. Washers & Cleaners
Mereka adalah orang-orang yang takut akan
terkontaminasi sesuatu seperti kuman, kotoran, ataupun penyakit. Untuk membuat
mereka yakin tidak terkontaminasi, mereka akan melakukan hal-hal selama mungkin
setelah bersentuhan dengan sesuatu. Contohnya dengan mandi dengan waktu yang
lama, mencuci tangannya beruang-ulang, atau membersihkan rumah selama
berjam-jam. Itu mereka lakukan sampai mereka yakin bahwa mereka telah aman dari
kuman, kotoran, ataupun penyakit.
3. Repeaters
Mereka adalah orang-orang yang selalu mengulang
perbuatan. Ketika ketakutan datang ke dalam pikiran mereka, mereka merasa suatu
kebutuhan untuk mengulang sesuatu agar pikiran itu tidak datang. Misalnya
menghindarkan pasangan dari kejelekan dengan cara memakaikan baju kemudian
melepaskannya. Semua itu dilakukan berulangulang hingga pikiran tentang
kematian itu hilang.
4. Orders
Order adalah
orang-orang yang ingin benda-benda disekitarnya tersusun dalam bentuk yang
simetris. Mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyakinkan bahwa
benda-benda tersebut tersusun dengan benar. Biasanya mereka akan cemas dan
kecewa jika benda milik mereka tidak tersusun dengan benar.
5. Hoarders
Hoarder adalah mereka yang mengumpulkan benda-benda yang mereka pikir akan sangat tidak mungkin untuk dibuang. Misalnya adalah ketika seseorang mengumpulkan begitu banyak koran untuk waktu yang lama karena mereka pikir suatu saat mereka akan membutuhkan artikelnya.
6. Thinking Ritualizes
Thinker ritualizes bentuknya hampir sama dengan repeaters. Tetapi thinker ritualizes adalah mereka yang pikirannya itu muncul akibat dari kebiasaan. Berdoa dengan suara yang pelan dan berulang-ulang serta mengucapkan kata, atau kalimat secara berulang-ulang pula merupakan beberapa contoh pemikir yang umum.
5. Hoarders
Hoarder adalah mereka yang mengumpulkan benda-benda yang mereka pikir akan sangat tidak mungkin untuk dibuang. Misalnya adalah ketika seseorang mengumpulkan begitu banyak koran untuk waktu yang lama karena mereka pikir suatu saat mereka akan membutuhkan artikelnya.
6. Thinking Ritualizes
Thinker ritualizes bentuknya hampir sama dengan repeaters. Tetapi thinker ritualizes adalah mereka yang pikirannya itu muncul akibat dari kebiasaan. Berdoa dengan suara yang pelan dan berulang-ulang serta mengucapkan kata, atau kalimat secara berulang-ulang pula merupakan beberapa contoh pemikir yang umum.
H. Penyebab OCD (Obsesif Complusif Disorder)
1.
Aspek
Biologis
Davison & Neale (Fausiah & Widury, 2007)
menjelaskan bahwa salah satu penjelasan yang mungkin tentang gangguan
obsesif-kompulsif adalah keterlibatan neurotransmitter di otak, khususnya
kurangnya jumlah serotonin. Keterlibatan serotonin ini belum sebagai penyebab
individu mengalami gangguan obsesif kompulsif, melainkan sebagai pembentuk dari
gangguan ini.
Fungsi serotonin di otak ditentukan oleh lokasi system proyeksinya.
Proyeksi pada konteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood, proyeksi pada
ganglia basalis bertanggung jawab pada gangguan obsesi kompulsi (Pinzon, 2006).
Otak adalah struktur yang sangat kompleks. Otak berisi miliaran sel saraf yang
disebut neuron dan harus berkomunikasi serta bekerja sama agar tubuh dapat
berfungsi secara normal. Neuron berkomunikasi melalui sinyal listrik. Mediator
khusus, yang disebut dengan neurotransmiter, membantu memindahkan pesan-pesan
listrik dari neuron ke neuron. Penelitian telah menemukan hubungan antara
rendahnya kadar neurotransmitter , yang disebut serotonin, dengan terjadinya
OCD. Selain itu, ada bukti bahwa ketidakseimbangan serotonin dapat diturunkan
dari orang tua kepada anak-anak. Hal ini berarti OCD dapat diwariskan.
Daerah-daerah tertentu di otak dapat juga terpengaruh oleh
ketidakseimbangan serotonin, yang memicu timbulnya OCD. Masalah ini tampaknya
melibatkan jalur otak yang menghubungkan daerah otak yang berfungsi sebagai
penilaian dan perencanaan, dengan daerah otak yang menerima pesan untuk gerakan
tubuh.
Studi juga telah menemukan hubungan antara infeksi oleh bakteri
Streptococcus dengan OCD. Infeksi ini, jika berulang dan tidak diobati, dapat
menyebabkan timbulnya OCD dan gangguan lainnya pada anak-anak
2.
Psikologis
Menurut Salkovskis, dkk; Steketee dan Barlow,
klien-klien OCD menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas tertentu
yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut. Ini disebut “thought-action
fusion” (fusi pikiran dan tindakan). Fusi antara pikiran dan tindakan ini
dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih-lebihan yang
menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa
kanak-kanak, dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat (Durand &
Barlow, 2006).
3.
Faktor
Psikososial
Menurut Sigmund Freud, gangguan obsesif-kompulsif bisa
disebabkan karena regresi dari fase anal dalam perkembangannya. Mekanisme
pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi pada
gangguan obsesif-kompulsif. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin
menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.
I.
Terapi OCD (Obsesif
Complusif Disorder)
a)
Pendekatan
Psikoanalisa
Terapi yang dilakukan adalah mengurangi represi dan
memungkinkan pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutinya. Namun
karena pikiran-pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif bersifat
melindungi ego dari konflik yang direpres, maka hal ini menjadi sulit untuk
dijadikan target terapi, dan terapi psikoanalisa tidak terlalu efektif untuk
menangani gangguan obsesif-kompulsif (Fausiah & Widury, 2007).
b) Exposure and Response Prevention
Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding)
diciptakan oleh Victor Meyer (1966), dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri
pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif atau (seperti memegang sepatu
yang kotor) dan kemudian menahan diri agar tidak menampilkan perilaku yang
menjadi ritualnya membuatnya menghadapi stimulus yang membangkitkan kecemasan,
sehingga memungkinkan kecemasan menjadi hilang. (Fausiah & Widury, 2007)
c)
Rational-Emotive
Behavior Therapy
Menurut Davison & Neale (Fausiah & Widury,
2007) terapi ini digunakan dengan pemikiran untuk membantu pasien menghapuskan
keyakinan bahwa segala sesuatu harus terjadi menurut apa yang mereka inginkan,
atau bahwa hasil pekerjaan harus selalu sempurna. Terapi kognitif dari Beck
juga dapat digunakan untuk menangani pasien gangguan obsesif kompulsif. Pada
pendekatan ini pasien diuji untuk menguji ketakutan mereka bahwa hal yang buruk
akan terjadi jika mereka tidak menampilkan perilaku kompulsi.
d) Farmakoterapi
Obat-obat Selective Serotonin Reuptake
Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson presinaptik
dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Penghambatan ambilan kembali
serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetine) pada transporter
ambilan kembali yang spesifik, sehinggga tidak ada lagi neurotransmitter
serotonin yang dapat berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akan
menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. Pengguanaan Selective
Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan untuk
memperbaiki perilaku stereotipik , perilaku melukai diri sendiri, resisten
terhadap perubahan hal-hal rutin, dan ritual obsesif dengan ansietas yang
tinggi. Salah satu alas an utama pemilihan obat-obat penghambat reuptake
serotonin yang selektif adalah kemampuan terapi.
Efek samping
yang dapat terjadi akibat pemberian fluexetine adalah nausea, disfunfsi
seksual, nyeri kepala, dan mulut kering. Toleransi SSRI yang relative baik
disebabkan oleh karena sifat selektivitasnya. Obat SSRI tidak banyak
berinteraksi dengan reseptor neurotransmitter lainnya. Penelitian awal dengan
metode pengamatan kasus serial terhadap 8 subjek. Tindakan terapi ditujukan
untuk mengatasi gejala-gejala disruptif, dan dimulai dengan fluexetine dosis 10
mg/hari dengan pengamatan. Perbaikan paling nyata dijumpai pada gangguan
obsesif dan gejal cemas (Pinzon dkk.,2006).
e)
Terapi
Keluarga (Family herapy)
Terapi keluarga (Majahudin, 1995), merupakan teknik
pengobatan yang sangat penting bila pada keluarga pasien OCD ini didapatkan
kekacauan hubungan dalam keluarga, kesukaran dalam perkawinan, masalah
spesifikasi dalam anggota keluarga atau peran anggota keluarga yang kurang
sesuai yang akan mengganggu keberhasilan fungsi masing-masing individu
dalam keluarga termasuk dalam waktu jangka panjang akan berakibat buruk pada
anak OCD.
Seluruh
anggota keluarga dimasukkan ke dalam proses terapi, menggunakan semua data
anggota keluarga seperti tingkah laku individu dalam keluarga. Menilai tingkah
laku setiap anggota keluarga yang mempengaruhi tingkah laku yang baik dan
membina pengaruh tingkah laku yang positif dari setiap individu.
f)
Terapi
Perilaku (Behaviour Therapy)
Leonardo mengatakan (Majahudin, 1995) bahwa teknik
terapi perilaku yang khusus digunakan untuk pasien anak usia lebih tua dan
remaja dengan gangguan OCD adalah latihan relaksasi dan response
prevention technique. Terapi perilaku pada penderita OCD, awalnya
mengumpulkan informasi yang lengkap mengenai riwayat timbulnya gejala OCD,
isyarat faktor internal dan fakto eksternal, serta faktor pencetus akan
timbulnya gejala OCD. Kemudian mengawasi tingkah laku pasien dala menghindari
situasi yang menimbulkan kecemasan, menghindari timbulnya gejala kompulsif dan
tingkat kecemasan pasien saat timbul gejala OCD harus diperiksa secara teliti.
J.
Terapi untuk
Anak dan Remaja
Menurut Majahudin, 1995 terapi untuk anak dan remaja
yang mengalami gangguan OCD adalah :
Ø Latihan Relaksasi
Pasien diminta untuk berpikir dan bersikap rileks dan
kemudian pasien diminta untuk memikirkan pikiran obsesi masuk dalam alam sadar.
Ketika pikiran obsesi muncul, maka terapi akan meminta pasien untuk
menghentikan pemikiran itu, misalnya dengan cara memukul maja, atau menarik
tali elastic yang diikatkan pada tangan. Hal ini dilakukan di rumah atau di
mana saja.
Ø Response Prevention Technique
Mula-mula didapatkan dulu rangsangan (stimulus) atau
pencetus yang menyebabkan dorongan untuk melakukan tindakan kompulsif. Jika
rangsangan kompulsif muncul maka pasien secara aktif diberanikan untuk melawan
tingkah laku kompulsif, sering dengan mengalihkan perhatian pasien sehingga
tindakan kompulsif tidak mungkin dilakukan misalnya dengan memukul meja.
Ø Penurunan Kecemasan
Tujuan dari terapi ini untuk menghilangkan kecemasan
yang menimbulkan gejala obsesif dan kompulsif. Hal ini dilakukan dengan
desensitisasi secara sistematik yakni dengan menghadapkan anak atau remaja pada
situasi yang menakutkan (misalnya pisau, hal-hal yang kotor, pegangan pintu dan
sebagainya) secara pelan-pelan samapai ketakutan dan kecemasan hilang atau
tidak ada lagi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Dari
uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa siapa saja berpotensi untuk
mengalami gangguan kepribadian. Karena gangguan kepribadian tidak saja
disebabkan oleh faktor genetika (dapat diturunkan), tapi juga dipengaruhi oleh
faktor temperamental, faktor biologis (hormon, neurotransmitter dan elektrofisiologi),
dan faktor psikoanalitik (yaitu adanya fiksasi pada salah satu tahap di masa
perkembangan psikoseksual dan juga tergantung dari mekanisme pertahanan ego
orang yang bersangkutan). The Aviator merupakan salah satu film yang membahas
seorang pria bernama Howard yang memiliki sifat ambisius dan mengidap penyakit
gangguan kepribadian OCD. Howard mempunyai gangguan OCD yang neurosis karena ada kecemasan dan dia menyadari
tingkah lakunya itu konyol tapi tetap tidak bisa berhenti. Selain itu dari segi
kognitif adalah terobsesi dengan keadaan yang serba higienis dan mengucapkan
sesuatu secara berulang. Dari segi motorik Howard selalu membersihkan badannya
& mencuci tangannya secara berulang serta juga selalu mengeja kata
“QUARANTINE”. Simtom-simtom yang muncul pada diri Howard yaitu cenderung
perfeksionis, ingin serba higienis, mengamati hal detail yang tidak terlalu
penting. Hal ini kadang menyiksanya. Selain itu ada banyak tipe-tipe gangguan
OCD ini salah satunya tipe Washer or Cleaner, tipe ini merupakan tipe gangguan
OCD yang di idap oleh Howard. Penyebab gangguan kepribadian OCD antara lain
dari segi aspek biologis dan aspek lingkungan yang sangat berpengaruh. Selain
itu, dalam film The Aviator tidak
dijelaskan bagaimana cara menangani gangguan OCD, hanya saja di bagian akhir
ketika penyakitnya kambuh Howard dipanggilkan dokter dan tidak secara rinci
dijelaskan. Tetapi, sebenarnya gangguan OCD ini dapat ditangani dengan cara
terapi salah satunya terapi keluarga dan terapi kognitif.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)