Pages

#SIP TUGAS 1 - SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

A. PENGERTIAN SISTEM DAN INFORMASI

1. PENGERTIAN SISTEM




Apa itu sistem? Berikut akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan sistem menurut para ahli :
  • Menurut Kusrini & Koniyo (2007) sistem didefinisikan sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaiakn suatu aturan tertentu.
  • Menurut  Tyoso (2016) sistem merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen yang membentuk suatu kesatuan.
  • Menurut Nuraida (2008) sistem adalah kumpulan komponen dimana masing-masing komponen memiliki fungsi yang saling berinteraksi dan saling tergantung serta memiliki satu kesatuan yang utuh untuk bekerja mencapai tujuan tertentu.
  • Menurut Marimin, Tanjung, H., & Prabowo, H. (2006) sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks.


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah suatu jaringan kerja yang merupakan kumpulan dari komponen-komponen yang saling berhubungan serta memiliki suatu kesatuan dan memiliki fungsi masing-masing yang berusaha mencapai suatu tujuan tertentu. 

2. PENGERTIAN INFORMASI


Apa itu informasi? Berikut akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan sistem menurut para ahli :


  • Menurut Marimin, Tanjung, H., & Prabowo, H (2006) informasi merupakan data yang telah diolah menjadi suatau bentuk yang penting bagi penerima dan mempunyai nilai nyata bagi pengambilan keputusan-keputusan saat ini atau waktu yang akan datang.
  • Menurut Hutahaean (2015) informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya.
  • Menurut Kusrini & Kuniyo (2007) informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi.
  • Menurut Amsyah, Z (2005) informasi adalah data yang sudah diolah ke dalam bentuk tertentu sesuai dengan keperluan pemakaian infromasi tersebut. 



Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang telah diolah menjadi sesuatu yang berguna, yang bermanfaat, dan mempunyai nilai nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan pada waktu mendatang sesuai dengan keperluan pemakain informasi.



B. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

1. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI



Apa itu informasi? Berikut akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan sistem menurut para ahli :

  • Menurut Marimin, Tanjung, H., & Prabowo, H. (2006) sistem informasi adalah suatu sistem yang menerima sumber data sebagai input  dan mengolahnya menjadi produk informasi sebagai output. 
  • Menurut Kusrini & Kaniyo (2007) sistem informasi adalah sebuah sistem yang terdiri atas rangkaian subsistem informasi terhadap pengolahan data untuk menghasilkan informasi berguna dalam pengambilan keputusan.
  • Menurut Komaruddin (dalam Nuraida, 2008) sistem informasi merupakan seperangkat prosedur yang terorganisasi dengan sistematik yang jika dilaksanakan akan menyediakan informasi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan keputusan.


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah suatu sistem yang terdiri dari rangkaian informasi yang menerima sumber data sebagai input dengan sistematik untuk menghasilkan informasi yang berguna yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan keputusan.

2. PENGERTIAN PSIKOLOGI



Apa itu psikologi ? Berikut akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan psikologi menurut para ahli :
  • Menurut Basuki, A.M.H. (2008), psikologi adalah ilmu pengetahuan ilmiah yang mempelajari perilaku, sebagai menifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif dan emosional.
  • Menurut Morgan (dalam Basuki, 2008) psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan binatang serta penerapannya pada permasalahan manusia.
  • Menurut Wundt (dalam Basuki, 2008) psikologi merupakan ilmu tentang kesadaran manusia.


Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dan perilaku tentang kesadaran manusia, proses mental, aktivitas motorik, kognitif dan emosional. 

3. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI



Apa yang di maksud dengan sistem informasi psikologi? Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk memperoleh informasi yang menerima sumber data yang berkaitan dengan data psikologi sebagai inputnya dengan cara yang sistematik untuk menghasilkan informasi yang berguna. Contoh sistem informasi psikologi dalam bidang Psikologi Kognitif yaitu penggunaan teknologi pemakaian aplikasi CP3 yang berguna dalam melihat Feature Detection pada setiap individu. 


C. ARSITEKTUR KOMPUTER

1. PENGERTIAN ARSITEKTUR KOMPUTER



Apa yang dimaksud dengan arsitekur komputer ? Berikut penjelasan mengenai arsitektur komputer :

  • Menurut Syani, M. (dalam academia.edu, 2012) arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. 
  • Menurut Duka, R. (dalam academia.edu, 2012) arsitekutr komputer adalah sebuah ilmu untuk tujuan perancangan sistem komputer. 
  • Menurut Optiandi, C. (dalam academia.edu, 2013) arsitektur komputer mempelajari atribut-atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer, seperti set instruksi, aritmatika yang digunakan, teknik pengalamatan, mekanisme I/0,  jumlah bit yang digunakan untuk representasi data.


Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa arsitektur komputer adalah ilmu yang mempelajari atribut dari sistem komputer yang memiliki konsep perencanaan dan struktur pengoperasian yang terkait dengan programmer dan memiliki tujuan perancangan sistem komputer. 
Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing-masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cache, RAM, ROM, cakram keras, dll. Beberapa contoh dari arsitektur komputer ini adalah :
  • Arsitektur von Neumann.
  • CISC.
  • RISC.
  • Blue Gene, dll. 
Menurut Suryadi (1994) ada dua bagian yang pokok untuk arsitektur computer, yaitu :
  • Instructionset Architecture (ISA) atau arsitektur set instruksi. ISA meliputi spesifikasi yang menentukan bagaimana programmer bahasa mesin akan berinteraksi dengan komputer. Komputer dipandang dari segi ISA-nya yang menentukan sifat komputasional komputer.
  • Hardware system Architecture (HAS) atau arsitektur system hardware. HAS berkaitan dengan subsistem hardware utama computer yang meliputi central processing unit (CPU) atau unit pemrosesan sentral, system penyimpanan dan input-output (I/O) system atau system input-outputnya. HAS mencakup desain logis dan organisasi arys data dari subsistem, dan oleh karenanya tingkat HAS yang luas menjadikan mesin dapat beroperasi secara efisien.

D. STRUKTUR KOGNISI MANUSIA 

1. PENGERTIAN KOGNISI


Apa yang dimaksud dengan kognisi? Berikut penjelasan mengenai kognisi menurut para ahli :
  • Menurut Semiun, Y. (2006) kognisi adalah kegiatan-kegiatan mental yang dibutuhkan dalam memperoleh, menyimpan, mendapat kembali, dan menggunakan pengetahuan. Meliputi proses mental seperti, mempresepsikan, belajar, mengingat, menggunakan bahasa, dan berpikir. 
  • Menurut Dewanto, G., Suwono, W. J., Riyanto, B., & Turana, Y. (2009) kognisi adalah suatu kegiatan pikiran, saat seseorang sadar akan objek suatu pemikiran atau persepsi. Kognisi mencakup semua aspek pikiran dan memori.
  • Menurut Howard (dalam Basuki, 2008) merupakan pemrosesan informasi dengan 3 pendekatan yaitu pendekatan pertama menekankan cara mengetahui (knowing) dan bukan cara memberikan respon (responding), pendekatan kedua menekankan pada struktur mental atau pengorganisasian dan pendekatan ketiga mempersepsikan individu sebagai makhluk yang aktif, konstruktif, berencana dan bukan makhluk yang pasif menerima stimulus dari lingkungan.'


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kognisi adalah pemrosesan informasi dengan memakai pendekatan seperti knowing, responding, dan mempersepsikan individu, juga merupakan kegiatan berpikir yang meliputi proses mental seperti, mempresepsikan, belajar, mengingat, menggunakan bahasa, dan berpikir. 
Sedangkan struktur kognisi manusia adalah skema yang mempelajari pemrosesan informasi yang terjadi pada manusia dari sesuatu yang sederhana dan saling melengkapi antara fungsi-fungsi satu sama lain, yang berasal dari panca indera kemudian dijadikan menjadi sesuatu yang kompleks didalam otak.

E. KAITAN ANTARA ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA


Kaitan antara arsitektur komputer dengan struktur kognisi manusia yaitu memiliki proses yang hampir sama yaitu sama-sama memproses informasi dari data yang masuk lalu menghasilkan sesuatu yang berguna. Pada struktur kognisi manusia, informasi masuk melalui panca indera manusia lalu masuk ke dalam otak, saat memproses informasi otak juga melakukan aktivitasnya yaitu memproses info yang masuk. Sedangkan dalam arsitektur komputer dengan cara menginput data yang akan digunakan lalu masuk ke dalam penyimpanan yang disebut dengan storage. Manusia mengeluarkan informasi juga melalui suatu proses, yaitu adalah proses kognisi di dalam otak. Sedangkan apabila arsitektur komputer mengeluarkan informasi biasanya disebut dengan output. Arsitektur komputer merupakan hasil dari pemikiran manusia, dimana hal tersebut merupakan hasil dari struktur kognisi manusia yang menghasilkan sesuatu yang berguna. Selain itu, terdapat hubungan antara arsitektur komputer dengan struktur kognisi manusia dimana dengan adanya komputer dapat memudahkan manusia dalam pekerjaan sehari-hari dengan cara memproses data yang dilihat melalui proses koginisi. 


Contoh yang dapat kita lihat seperti penggunaan SPSS yang berfungi untuk membantu dalam memproses data-data statistik secara tepat dan cepat, serta menghasilkan berbagai output yang dikehendak. Program SPSS dapat kita gunakan apabila kita telah memiliki data-data statistik yang berasal dari kuesioner, data yang di dapat akan diolah ke dalam otak dengan melalui proses kognisi. Lalu otak akan memproses ke seluruh tubuh agar dapat membuat suatu data di dalam komputer menggunakan bantuan SPSS.

F. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DARI ARSITEKTUR KOMPUTER BILA DIBANDINGKAN DENGAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA



1. ARSITEKTUR KOMPUTER



a. Kelebihan
  • Komputer dapat melakukan operasi matematika dan logika dengan sangat cepat.
  • Komputer dapat melakukan ribuan simulasi dan menghasilkan ribuan data yang sama dalam waktu yang singkat.
  • Dapat digunakan lebih dari satu orang.
  • Komputer dapat di pergunakan untuk memindahkan informasi dari suatu tempat ke tempat lain
  • Komputer dapat membantu pekerjaan manusia secara singkat dan cepat. 
b. Kelemahan
  • Tidak dapat beroperasi tanpa adanya pemakai atau user.
  • Harga yang cukup mahal.
  • Tidak mampu membuat kesimpulan seperti manusia.
  • Tidak memiliki emosi seperti manusia.
  • Tidak dapat memahami sesuatu yang kompleks dibandingkan dengan manusia.

2. STRUKTUR KOGNISI MANUSIA 




a. Kelebihan
  • Struktur kognisi manusia bekerja sistematis yang memiliki arah dan tujuan.
  • Dapat membuat kesimpulan.
  • Memiliki emosi.
  • Dapat memahami sesuatu yang kompleks.
  • Kapasitas memori otak lebih banyak dibandingkan dengan komputer.
b. Kelemahan
  • Tidak dapat menghasilkan ribuan data pada waktu yang cepat.
  • Tidak dapat melakukan operasi matematika dengan sangat cepat.
  • Dalam pemrosesan recall (pemanggilan kembali sebuah ingatan) manusia cenderung lambat.
  • Dapat lupa dengan sebuah informasi apabila tidak dipahami dengan seksama dan bisa terhapus.
  • Tidak mengoptimalkan sebuah ingatan. 

DAFTAR PUSTAKA 
  • Kusrini & Kinoyo, A. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akuntansi dengan visual basic dan microsoft sql server. Yogyakarta : C. V Andi Offset
  • Tyoso, J. S. P. (2016). Sistem informasi manajemen. Yogyakarta : Deepublish
  • Nuraida, I. (2008). Manajemen administrasi perkantoran. Yogyakarta : Kanisius
  • Marimin, Tanjung, H., & Prabowo, H. (2006). Sistem informasi manajemen sumber daya manusia. Jakarta : Grasindo
  • Hutahaean, J. (2015). Konsep sistem informasi. Yogyakarta : Deepublish
  • Amsyah, Z. (2005). Manajemen sistem informasi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
  • Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi umum. Depok : Universitas Gunadarma.
  • https://www.academia.edu/6504965/Pengertian_dan_Tujuan_ARSITEKTUR_KOMPUTER
  • https://www.academia.edu/11406450/Organisasi_and_Arsitektur_Komputer_-_Pendahuluan
  • Suryadi, HS. (1994). Pengantar arsitektur computer (seri diktat). Jakarta: Universitas Gunadarma
  • Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta : Kanisius.
  • Dewanto, G., Suwono, W. J., Riyanto, B., & Turana, Y. (2009). Panduan praktis diagnosis dan tata laksana penyakit saraf. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

TUGAS PSIKOTERAPI 4 - REVIEW JURNAL TERAPI REALITAS

Judul :
The Impact of Reality Therapy on Depression Level of Divorced Women: Zanjan (A Case Study)
Jurnal :
International Journal of Contemporary Applied Sciences
Volume & Halaman :
Vol. 3, No. 10 & Hal. 113-123
Tahun : 2016
Penulis :
Mojtaba Amiri Majd dan Zhaleh Mahmoodi
Reviewer : Mahmudia Ratri Kirana
Tanggal : 11 Juni 2017
Abstrak :
Depresi adalah gangguan mood dan konsekuensi umum dari suatu perceraian. Hal ini melemahkan kekuatan penilaian dan menyebabkan perilaku irasional. Namun, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak terapi realitas terhadap tingkat depresi wanita yang bercerai di Zanjan. Dengan menggunakan metode convenience sampling, oleh karena itu, 30 wanita bercerai dipilih sebagai sampel. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: 15 peserta kelompok mendapat perlakuan dan 15 peserta merupakan kelompok kontrol. Mereka diselidiki sebelum dan sesudah terapi realitas. The Beck's Depression Inventory digunakan sebagai alat penelitian. Analisis kovariansi univariat digunakan untuk menganalisis data. Temuan menunjukkan bahwa terapi realitas berdampak pada pengurangan depresi pada wanita yang bercerai. Menurut literatur penelitian yang ada dan temuan penelitian ini, disimpulkan bahwa terapi realitas dapat berdampak pada pengurangan depresi pada wanita yang bercerai.
Pendahuluan Penelitian :
Perceraian dan pemisahan merupakan penyebab utama gangguan pada sebagian besar struktur dasar masyarakat, keluarga. Depresi adalah salah satu masalah yang sering terjadi pada wanita yang bercerai. Depresi adalah gangguan psikologi kedua yang paling umum. Tampaknya wanita yang bercerai lebih tertekan dibanding wanita yang sudah menikah. Mereka mengalami kejadian yang lebih menegangkan di tahun-tahun setelah perceraian. Depresi adalah kelainan yang dikaitkan dengan pengurangan energi dan gairah, perasaan bersalah, kesulitan konsentrasi, kehilangan nafsu makan, dan pikiran akan kematian dan bunuh diri dan menyebabkan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, ucapan, tidur, dan nafsu makan terganggu. Depresi dianggap kelainan hanya bila tidak akan konsisten dengan kejadian yang terjadi atau akan bertahan lebih lama dari waktu yang merupakan titik awal perbaikan lanjutan bagi kebanyakan orang. Dalam hal ini, banyak pendekatan pengobatan telah dikembangkan dan diterapkan. Namun, pendekatan Terapi Realitas Glasser (teori pilihan) adalah salah satu pendekatan terapeutik yang memiliki dampak signifikan pada depresi (Vubulding & Brickell, 2006). Terapi realitas adalah kumpulan teknik, metode, dan alat yang membantu orang untuk beralih dari perilaku yang tidak efisien ke perilaku efisien, pilihan yang merusak terhadap pilihan konstruktif, dan yang terpenting, dari gaya hidup yang tidak bahagia menuju gaya hidup bahagia (Glaser, 2010). Terapi realitas bertujuan untuk membuat individu bertanggung jawab dan menciptakan identitas yang sukses. Individu harus menentukan perilaku yang ingin memperbaruinya, memusatkan perhatiannya padanya, tidak memiliki alasan untuk menolak tanggung jawabnya, menilai cara mencapai.
Metodologi Penelitian :
Penelitian ini merupakan semi eksperimental; Pretest-posttest dilakukan dengan kelompok kontrol. Menggunakan metode convenience sampling, 30 wanita bercerai dipilih sebagai sampel. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: 15 peserta kelompok yang mendapat perlakuan dan 15 peserta merupakan kelompok kontrol. Mereka diselidiki sebelum dan sesudah terapi realitas. The Beck's Depression Inventory digunakan sebagai alat penelitian. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif (frekuensi, frekuensi persentase, mean, SD) dan uji ANCOVA.
Hasil Penelitian :
Hasil yang diperoleh dalam hipotesis dalam penelitian ini adalah terapi realitas berdampak pada depresi wanita yang bercerai. Menurut hasil dan (P <0,05; F = 166,042), dapat disimpulkan bahwa perbedaan antar kelompok signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Oleh karena itu, hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian dikonfirmasi; Wanita yang bercerai yang berada di bawah terapi ternyata kurang depresi dibanding wanita yang bercerai dalam kelompok kontrol.
Kesimpulan Penelitian :
Depresi adalah gangguan mood dan konsekuensi umum dari suatu perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak terapi realitas terhadap tingkat depresi wanita yang bercerai di Zanjan. Dengan menggunakan metode convenience sampling, oleh karena itu, 30 wanita bercerai dipilih sebagai sampel. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: 15 peserta kelompok mendapat perlakuan dan 15 peserta merupakan kelompok kontrol. The Beck's Depression Inventory digunakan sebagai alat penelitian. Analisis kovariansi univariat digunakan untuk menganalisis data. Temuan menunjukkan bahwa terapi realitas berdampak pada pengurangan depresi pada wanita yang bercerai. Menurut literatur penelitian yang ada dan temuan penelitian ini, disimpulkan bahwa terapi realitas dapat berdampak pada pengurangan depresi pada wanita yang bercerai. Selain itu kesimpulan lain adalah wanita yang tidak mendapatkan terapi realitas cenderung mengalami depresi ketika bercerai daripada yang mendapatkan terapi realistis.
Kekuatan Penelitian :
1. Efek dari terapi realitas sangat baik dan dapat dikembangkan lebih luas terutama untuk wanita yang mengalami depresi pasca bercerai.
2. Hasil penelitian dapat memberikan ilmu kepada setiap orang yang juga mengalami hal serupa.
3. Daftar pustaka sebagian besar sudah up to date dan tidak terlalu banyak tahun yang sudah lama.
4. Terapi realitas bertujuan untuk membuat individu bertanggung jawab dan menciptakan identitas yang sukses, agar depresi yang diderita dapat berkurang.
Kelemahan Penelitian :
1. Terapi realitas harus berpusat kepada niat dari klien, apabila klien tidak memiliki niat maka terapi realitas tidak dapat dicapai dengan baik.
Daftar Pustaka :
Majd, M. A & Mahmoodi, Z. (2016). The Impact of Reality Therapy on Depression Level of Divorced Women: Zanjan (A Case Study). International Journal of Contemporary Applied Sciences . 3, 10, 113-123.

TUGAS PSIKOTERAPI 3 - REVIEW JURNAL PSIKOTERAPI (CBT)

Judul

:

Effectiveness of Cognitive-Behavioral Treatment for Major Depressive Disorder in a University Psychology Clinic.

Jurnal

:

The Spanish Journal of Psychology

Volume & Halaman

:

Vol. 15, 3. Hal. 1388-1399

Tahun

:

2012

Penulis

:

Francisco José Estupiñá Puig dan Francisco Javier Labrador Encinas

Reviewer

:

Mahmudia Ratri Kirana

Tanggal

:

10 Mei 2017

Abstrak

:

Mayor Depressive Disorder (MDD) adalah gangguan mental yang paling umum dilingkungan kita, dan salah satu dari penyebab utama adalah kecacatan. Sementara ada beberapa perawatan yang didukung secara empiritis untuk MDD, beberapa keraguan telah disampaikan pada penerapannya mengenai waktu, komponen, keefektifan EST dalam praktek klinis rutin. Beberapa budaya telah dilakukan untuk membedakan EST, namun biasanya komponen yang tepat dari pengobatan yang dikembangkan tidak dipertimbangkan secara rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan yang diberikan pada komponen, panjang, dan efektivitas (dalam efek ukuran, pelengkap, dan rasio yang ditingkatkan) terhadap studi Benchmark. Restrukturisasi kognitif adalah komponen yang paling sering diberikan dalam perawatan. Hasil terapi menunjukkan ukuran efek 3.12, 55.1% rasio yang lebih baik dari sampel awal, 80% pelengkap. Hasil dan keterbatasan penelitian saat ini, terutama yang berkaitan dengan karakteristik sampel dan pusat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komponen pengobatan berbasis EST pada 69 kasus dari Universitas Psikologi Klinis, dan untuk membandingkannya dengan hasil studi efikasi yang dipublikasikan pada EST (aktivasi perilaku, terapi kognitif, terapi interpersonal)

Subjek Penelitian

:

Subjek penelitian terdari dari 69 pasien dengan karakteristik sosiodemografis. Pasien adalah orang dewasa yang meminta perawatan karena berbagai alasan, berkisar antara tahun 1999-2010, dan yang menerima diagnosis primer MDD.

Prosedur

:

Pasien didiagnosis dengan MDD sesuai kriteria DSM (APA, 2000) oleh terapis setelah penilaian individual di mana beragam instrumen digunakan (wawancara semi terstruktur, kuesioner yang telah divalidasi seperti BDI-II, Beck Depression Inventory - II (BDIII; Beck, Steer, & Brown, 1996)). Penliaian median sesi adalah 4, diakhiri dengan diagnosis, formulasi klinis, dan rencana pengobatan. Terapis yang sama kemudian melakukan perawatan.

Variabel dan Instrumen

:

1. Karakteristik pasien:

Jenis kelamin, usia, status sipil, situasi kerja, tingkat pendidikan, alasan konsultasi, sumber rujukan ke pusat, status siswa atau personil UCM, komorbiditas dan diagnosis sekunder (jumlah dan Tipe), durasi masalah, perawatan sebelumnya (jumlah dan jenis), dan anteseden keluarga depresi juga disertakan.

2. Karakteristik terapis:

Jumlah sesi penilaian dan sesi pengobatan sebelum putus sekolah, jumlah sesi tindak lanjut dan jenis teknik yang digunakan dalam perawatan, serta kepatuhan pasien terhadap sesi dan tugas.

3. Instrumen

a. Berisi aplikasi program Behavioral Aktivasi, Terapi Kognitif dan Interpersonal untuk depresi.

b. Menggunakan metodologi RCT yang akan memaksimalkan validitas internal studi.

c. Memiliki kriteria pemulihan eksplisit, lebih disukai skor pada BDI atau BDI-II.

Analisis Data

:

Data demografi, klinis, dan pengobatan dan hasilnya dikodekan dengan SPSS 15.0 untuk analisis dengan statistik deskriptif yang bersangkutan. Data pasien yang menyelesaikan pengobatan dibedakan dari data orang yang keluar dari perawatan. Rasio keberhasilan pengobatan dihitung berdasarkan persentase pelepasan dan putus sekolah dan signifikansi klinis perubahan, yang didefinisikan sebagai tidak adanya depresi pada akhir pengobatan dan skor BDI-II lebih rendah dari 7 poin. Cohen's δ digunakan untuk mengukur ES perlakuan pada posttreatment, serta RCI. Pada nilai dimana hal ini memungkinkan, hasil pengobatan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada kelompok perbandingan yang dipilih. Hal ini dilakukan dengan cara uji t atau Kolmogorov-Smirnov (tergantung pada asumsi asumsi parametrik yang terpenuhi), uji Chi-kuadrat, uji pasti Fisher (tergantung pada frekuensi yang diharapkan yang cukup didistribusikan), dan ES. Kami juga melakukan perbandingan antara kelompok pasien yang keluar dari perawatan dan mereka yang menyelesaikannya (karakteristik klinis demografi dan pretreatment, karakteristik pengobatan) dan antara pasien yang menggunakan obat antidepresif selama perawatan (karakteristik klinis demografi dan pra-posttreatment), dengan menggunakan satu faktor ANOVA, tes chisquare, atau uji pasti Fisher.

Diskusi

:

1. Karakteristik Sosiodemografi

Lebih dari dua pertiga pasien adalah wanita, kebanyakan dari mereka single, masih berstatus mahasiswa, dan relatif muda. Data serupa dengan sampel lainnya, untuk tingkat pendidikan tinggi (MSPS, 2007) menunjukan persentase pengangguran yang lebih tinggi di kalangan putus sekolah mungkin karena alasan ekonomi.

2. Karakteristik Klinis Pasien

Sampel yang digunakan mencerminkan masalah depresi berat; semuanya memenuhi kriteria klinis untuk MDD, dengan tinggi Skor di BDI-II (M = 29,16), yang sesuai dengan gejala simtomatologi depresif berat. Data lain seperti durasi rata-rata masalah 22 bulan, dan hampir setengahnya telah menerima perawatan sebelumnya untuk masalah ini, mendukung penilaian tingkat keparahannya. Komorbiditas terbatas pada 20,3% kasus, meskipun profil komorbiditas antara pasien yang keluar dan mereka yang tidak berbeda.

3. Karakteristik Terapis

Berdasarkan penerapan EST, tergantung pada rumusan klinis dari setiap masalah, bukan pada penugasan pasien untuk diagnosis. Tingginya persentase rujukan (13,7%) berkaitan dengan fakta bahwa rata-rata tinggal terapis adalah dua tahun, setelah itu, mereka harus merujuk kasus mereka ke terapis lain dari pusat yang sama. Rujukan wajib ini dapat menyebabkan peningkatan jumlah sesi pengobatan dan jumlah anak yang putus sekolah.

4. Karakteristik Pengobatan

Tingginya persentase pelepasan sebesar 63,76% perlu dicatat. Ada juga perbedaan penting antara keduanya. Kelompok pasien putus sekolah dan dikeluarkan sekolah. Dalam variabel perlakuan ini, jumlah rata-rata sesi dan teknik lebih rendah pada kelompok putus sekolah yang logis, meskipun juga dicatat bahwa kepatuhan mereka terhadap perawatan (absen) secara signifikan lebih rendah.

Kekuatan Penelitian

:

1. Efek dari terapi CBT sangat baik dan dapat dikembangkan lebih luas.

2. Hasil penelitian dapat memberikan ilmu kepada setiap orang yang juga mengalami hal serupa bahwa penderita Major Depressive Disorders dapat menerima pendidikan psikoanalisis tentang masalah mereka, teknik penonaktifan, aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas yang menyenangkan, dan restrukturisasi kognitif.

3. Dapat mengontrol banyaknya sampel karena ini merupakan penelitian eksperimen.

4. CBT dapat dimanfaatkan untuk penderita Major Depressive Disorders agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Kelemahan Penelitian

:

1. Daftar pustaka yang ditulis peneliti sudah lengkap namun ada beberapa tahun referensinya dirasa sudah lama terbitnya sehingga tidak up to date.

2. Tidak ada sesi tindak lanjut atau informasi tentang status akhir dari intervensi tersebut.

3. Beberapa budaya telah dilakukan untuk membedakan EST, namun biasanya komponen yang tepat dari pengobatan yang dikembangkan tidak dipertimbangkan secara rinci.

Kesimpulan

:

Terapi Interpersonal adalah salah satu yang memiliki komponen umum lebih sedikit. Komponen utama ESTs, kecuali untuk Terapi Interpersonal, diterapkan untuk sebagian besar kasus dan dalam batas waktu tertentu, yang serupa dengan yang ditunjukkan dalam RCT. Baik Behavioral Activation maupun Cognitive Therapy mengusulkan kegiatan pemrograman, pelatihan ketrampilan sosial, dan pemecahan masalah sebagai komponen ajuvan. Terapi Kognitif mencakup komponen penting dari restrukturisasi kognitif sebagai inti pengobatan di Universitas Psikologi Klinik, setidaknya dua pertiga dari kasus yang diobati menerima hampir semua komponen Behavioral Activation and Cognitive Therapy. Pasien yang keluar dari perawatan menerima rata-rata 5 sesi pengobatan, dengan median 6 teknik intervensi. Pendekatan psikoedukasional hadir dalam 100% kasus, dengan teknik yang tersisa berkisar antara 80% untuk teknik aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas menyenangkan dan 4% untuk teknik biofeedback. Secara keseluruhan, setidaknya 66% pasien ini menerima pendidikan psikoanalisis tentang masalah mereka, teknik penonaktifan, aktivasi perilaku / perencanaan aktivitas yang menyenangkan, dan restrukturisasi kognitif. Dalam 66,7% kasus, terapis memperkirakan bahwa lebih dari 75% dari jumlah tersebut resep pengobatan diikuti oleh pasien. Kehadiran dan ketepatan waktu dalam sesi tersebut adalah dinilai memadai sebesar 66,7% kasus.

Daftar Pustaka

:

Puig, F. J. E & Encinas, F. J. L. (2012). Effectiveness of Cognitive-Behavioral Treatment for Major Depressive Disorder in a University Psychology Clinic.. The Spanish Journal of Psychology. 15, 3, 1388-1399.

REVIEW JURNAL PSIKOTERAPI (LOGOTHERAPY-VICTOR FRANKL)

Judul
:
The Effect of Logotherapy on the Suffering, Finding Meaning, and Spiritual Well-being of Adolescents with Terminal Cancer
Jurnal
:
J Korean Acad Child Health Nurs.
Volume & Halaman
:
Vol. 15, No. 2 & Hal. 136-144
Tahun
:
2009
Penulis
:
Kang, K.A., Im, J.I., Kim, H.S., Kim, S.J., Song, M.K., & Sim, S.
Reviewer
:
Mahmudia Ratri Kirana
Tanggal
:
7 April 2017
Abstrak
:
Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi efek dari program pendidikan logotherapy. Metode yang dilakukan adalah eksperimen yaitu membagi kelompok kontrol nonequivalent, nondesain lalu disinkronkan dan dilakukan dengan sampel yang diberikan perlakuan yang menghasilkan kenyamanan pada 29 anak-anak dengan penderita kanker. Kelompok eksperimen (n = 17) berpartisipasi dalam program pendidikan logotherapy yang terdiri dari 5 sesi setiap hari selama satu minggu. Kelompok kontrol (n = 12) menerima perawatan biasa. Efek diukur menggunakan skala penderitaan, makna remaja dalam kehidupan (AMIL), dan skala kesejahteraan spiritual (SWBS). Hasilnya ada perbedaan yang signifikan dalam penderitaan (W = 153,00, p <0,05) dan makna dalam hidup (W = 78,00, p <0,05) antara kelompok eksperimen dan kontrol. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kesejahteraan rohani (W = 136,50, p> 0,05). Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah logotherapy efektif dalam mengurangi penderitaan dan meningkatkan makna dalam hidup. Logotherapy dapat dimanfaatkan untuk remaja penderita kanker untuk mencegah distress eksistensial dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Subjek Penelitian :
Subjek penelitian terdari dari 49 peserta berumur 11-18 tahun yang berada di rumah sakit Seoul, didiagnosis tahap III dalam penyakit kanker, dirawat di unit kanker pediatrik. 25 orang menjadi kelompok eksperimen yang diambil pada bulan April-Agustus 2007 dan 24 orang untuk kelompok kontrol yang diambil pada bulan September-Januari 2008.
Assemen Data
:
Menggunakan skala penderitaan, makna kehidupan remaja diukur dengan skala AMIL, dan kesejahteraan spiritual diukur dengan
skala SWBS.
Metode Penelitian
:
1. Menggunakan skala penderitaan, skala ini terdiri dari 37-item yaitu skala dengan hasil 4 point menunjukkan penderitaan yang lebih tinggi. Terdapat 37 pertanyaan yang disusun dalam 7 faktor: hubungan keluarga, kondisi emosional, ketidaknyamanan fisik, makna dan tujuan hidup, rangsangan kontekstual, perubahan citra tubuh, dan perasaan bersalah.
2. Menggunakan skala AMIL untuk melihat makna kehidupan remaja penderita kanker. Terdiri dari 46 pertanyaan untuk orang dewasa dari perspektif logotherapy. Skala AMIL terdiri dari 33 pertanyaan, skala dengan hasil 4 point memiliki arti yang lebih tinggi dalam hidup. 33 pertanyaan yang difaktorkan menjadi 8 faktor, yaitu: pengalaman dalam percintaan, melakukan upaya untuk bersemangat dalam kehidupan, kesadaran menjadi seseorang yang penting, penerimaan keterbatasan, perasaan puas, pengalaman dalam berhubungan, berpikir positif, dan harapan.
3. Skala SWBS yaitu skala dalam kesejahteraan spiritual. Skala ini terdiri dari 20 pertanyaan yang disusun dalam 3 bagian (kepuasan hidup, tujuan dan makna hidup, dan rasa keterkaitan dengan Tuhan) skala dengan hasil 4 point memiliki arti spiritual kesejahteraan yang lebih tinggi.
Analisis Statistik
:
Analisis statistik menggunakan SPSS, karena penelitian ini merupakan sebuah penelitian ekperimen.
1. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis semua variabel. Nilai rata-rata dari setiap skala digunakan untuk pemahaman yang efektif tentang makna skor variabel penelitian.
2. Mann-Whitney-Wilcoxon Test (MWW) digunakan untuk membandingkan homogenitas dalam karakteristik umum dan diagnostik antara kelompok eksperimen dan kontrol. Uji MWW dilakukan untuk mengidentifikasi hasil homogenitas variabel antara skor pre-test kedua kelompok.
3. Tes MWW digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata perubahan skor makna dalam hidup, penderitaan dan kesejahteraan spiritual.
Diskusi
:
Hasil yang diperoleh dalam percobaan ini mendukung kemampuan logotherapy untuk mengatasi kekosongan eksistensial dan meningkatkan makna dan tujuan hidup pasien. Perawatan adalah metode mudah dipahami oleh intervensi emosional dan spiritual bagi remaja. Penelitian ini dimanfaatkan dari teori Frankl, bahwa jika pasien muda menjalani logotherapy maka mereka akan menemukan makna yang unik dari penderitaan yang mereka alami, maka penderitaan mereka tidak bisa lagi didefinisikan. Program pendidikan logotherapy dilakukan pada pasien remaja dengan kanker tidak secara signifikan mengubah spiritual kesejahteraan antara kedua kelompok, tetapi mereka percaya bahwa manusia memiliki tubuh, pikiran, dan jiwa, roh juga harus terlibat dalam proses penyembuhan mereka. Respon ini menunjukkan bahwa kepedulian secara emosional dan spiritual adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk kemoterapi dan perawatan fisik.
Kekuatan Penelitian
:
1. Efek dari terapi logotherapy sangat baik dan dapat dikembangkan lebih luas.
2. Hasil penelitian dapat memberikan ilmu kepada setiap orang yang juga mengalami hal serupa bahwa penderita kanker dapat meningkatkan makna hidup, menyejatherakan spiritual dan dapat mengerti makna dari penderitaan yang dirasakan.
3. Dapat mengontrol banyaknya sampel karena ini merupakan penelitian eksperimen.
4. Logotherapy dapat dimanfaatkan untuk remaja penderita kanker untuk mencegah distress eksistensial dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kelemahan Penelitian
:
1. Daftar pustaka yang ditulis peneliti sudah lengkap namun sebagian tahun referensinya dirasa sudah terlalu lama terbitnya sehingga tidak up to date.
2. Kelompok kontrol adalah kecil karena beberapa pasien tidak bisa menyelesaikan pertanyaan survei karena kondisi lemah mereka.
3. Intervensi satu minggu dianggap pendek karena kondisi lemah pasien dan ini mencegah konfirmasi pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan rohani.
Kesimpulan
:
Program pendidikan logotherapy untuk remaja dengan kanker dinilai sukses dalam mengurangi penderitaan dan dapat menemukan makna dalam hidup. Sebagai intervensi emosional dan spiritual dalam pengaturan perawatan paliatif, logotherapy  menunjukkan potensi secara efektif meningkatkan kualitas hidup dan mencegah kekosongan eksistensial yang disebabkan oleh penyakit kanker untuk pasien remaja di bawah tekanan yang serius. 
Daftar Pustaka
:
Kang, K.A., Im, J.I., Kim, H.S., Kim, S.J., Song, M.K., & Sim, S. (2009). The effect of logotherapy on the suffering, finding meaning, and spiritual well-being of adolescents with terminal cancer . J korean acad child health nurs. 15, 2, 136-144.

PERBEDAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING

A. PSIKOTERAPI

1.1 DEFINISI PSIKOTERPI

Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, Psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran. Ada berbagai definisi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli tentang Psikoterapi, diantaranya :

1. Menurut Wolberg (1954), Psikoterapi adalah suatu bentuk (perawatan atau perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.

2. Menurut Ivey & Simek-Downing (1980), Psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian.

3. Menurut Yustinus Semiun (2006), Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologisuntuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.

4. Menurut Watson & Morse (1977) Psikoterapi adalah bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.

5. Menurut Corsini (1989), Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.

Menurut pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Psikoterapi adalah serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Psikoterapi merupakan suatu interaksi sistematis antara pasien dengan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan pasien agar membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.

1.2 CIRI PSIKOTERAPI

Menurut Yustinus Semiun (2006), psikoterapi memiliki ciri yaitu :

1. Interaksi Sistematis
Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu interaksi antara kline dan terapis. Kata sistematis di sini berarti terapis menyusun interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus yang menggambarkan segi pandangan teoritis terapis.

2. Prinsip-prinsip Psikologis
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.

3. Tingkah Laku, Pikiran dan Perasaan
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi mungkin diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.

4. Tingkah Laku Abnormal, Memecahkan Masalah, dan Pertumbuhan Pribadi
Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok klien yang dibantu oleh psikoterapi. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengalami masalah-masalah tingkah laku yang abnormal, seperti gangguan suasana hati, gangguan penyesuaian diri, gangguan kecemasan atau skizofrenia. Kelompok kedua adalah orang-orang yang meminta bantuan untuk menangani hubungan-hubungan yang bermasalah atau menangani masalah-masalah pribadi yang tidak cukup berat dianggap abnormal, seperti perasaan malu atau bingung mengenai pilihan-pilihan karir. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari psikoterapi karena psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh petumbuhan pribadi. Bagi mereka, psikoterapi adalah sarana untuk penemuan diri dan peningkatan kesadaran yang akan membantu mereka untuk mencapai potensi yang penuh sebagai manusia.

1.3 FUNGSI PSIKOTERAPI

1. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar, yaitu tujuan ini biasanya dilakukan melalui terapi yang sifatnya direktif (memimpin) dan suportif (memberikan dukungan dan semangat). Persuasi (ajakan) dengan cara diberi nasehat sederhana sampai pada hypnosis (keadaan seperti tidur karena sugesti) digunakan untuk menolong orang bertindak dengan cara yang tepat.

2. Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yang mendalam.

3. Fokus disini adalah adanya katarsis (penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan).

4. Membantu klien mengembangkan potensinya, yaitu klien diharapkan dapat mngembangkan potensinya. Ia akan mampu melepaskan diri dari fiksasi (perasaan terikat atau terpusat pada sesuatu secara berlebihan) yang dialaminya. Klien akan menemukan bahwa dirinya mampu untuk berkembang ke arah yang lebih positif.

5. Mengubah kebiasaan, yaitu tugas terapis adalah menyiapkan situasi belajar baru yang dapat digunakan untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan yang kurang adaptif.

6. Mengubah struktur kognitif individu, yaitu menggambarkan tentang dirinya sendiri maupun dunia sekitarnya. Masalah muncul biasanya terjadi kesenjangan antara struktur kognitif individu dengan kenyataan yang dihadapinya. Jadi, struktur kognisi (kegiatan atau proses untuk memperoleh pengetahuan) perlu diubah untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

7. Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan dengan tepat.

8. Meningkatkan pengetahuan diri atau insight (pencerahan).

9. Meningkatkan hubungan antar pribadi.

10. Terapi kelompok merupakan dapat memberikan kesempatan bagi individu untuk meningkatkan hubungan antar pribadi ini.

11. Mengubah lingkungan social individu. Terutama terapi yang diperuntukan untuk anak-anak.

12. Mengubah proses somatic (fisik) supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaran tubuh.

13. Latihan fisik dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran individu. Seperti : Relaksasi untuk mengurangi kecemasan, yoga, senam, menari dll.

14. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, control, dan kreativitas diri.

1.4 TUJUAN PSIKOTERAPI

Menurut Huffman, et al,. (1997) ada lima tujuan psikoterapi, yaitu :

1. Pikiran-pikiran kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan secara khas menderita konfusi, pola-pola pikirian yang destruktif, atau tidak memahami masalah-masalah mereka sendiri. Para terapis berusaha mengubah pikiran-pikiran ini dan memberikan ide-ide atau informasi baru, dan membimbing individu-individu tersebut untuk menemukan pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah mereka sendiri.

2. Emosi-emosi yang kalut. Orang-orang yang mencari terapi pada umumnya mengalami emosi yang sangat tidak menyenangkan. Dengan mendorong pasien untuk mengungkapkan secara bebas perasaan-perasaan dan memberikan suatu lingkungan yang menunjang, para terapis membantu mereka menggantikan perasaan-perasaan tersebut, seperti perasaan putus asa dan perasaan tidak mampu dengan perasaan-perasaan yang mengandung harapan dan percaya akan diri sendiri.

3. Tingkah laku-tingkah laku yang kalut. Individu-individu yang mengalami kesulitan biasanya memperlihatkan tingkah laku-tingkah laku yang mengandung masalah. Para terapis membantu pasien-pasien mereka menghilangkan tingkah laku-tingkah laku yang menggangu itu dan membimbing mereka kepada kehidupan yang lebih efektif.

4. Kesulitan-kesulitan antar pribadi dan situasi kehidupan. Para terapis membantu pasien-pasien memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga, teman-teman dan kolega-kolega seprofesi. Mereka juga membantu para pasien itu menghindari atau mengurangi sumber-sumber stres dalam kehiduapn mereka seperti tuntutan-tuntutan pekerjaan atau konflik-konflik keluarga.

5. Gangguan-gangguan biomedis. Individu-individu yang mengalami kesulitan kadang-kadang menderita gangguan-gangguan biomedis yang langsung menyebabkan atau menambah kesulitan-kesulitan psikologis. Para terapis membantu menghilangkan masalah-masalah ini pertama-tama dengan obat-obatan, dan kadang-kadang dengan terapi elektrokonvulsif dan/ atau psikobedah (psychosurgery). Meskipun kebanyakan terapis bisa bekerja dengan pasien-pasien dalam beberapa bidang ini, tetapi penekanan berbeda menurut latar belakang pendidikan terapis. Para psikoanalis, misalnya, menitikberatkan pikiran-pikiran tak sadar dan emosi; para terapis kognitif memusatkan perhatian pada pola-pola pikiran dan kepercayaan yang salah; para terapis humanistik berusaha mengubah respons-respons emosional negatif dari pasien; para behavioris (sebagaimana terkandung dalam nama itu sendiri) memusatkan perhatian pada perubahan tingkah laku maladaptif; dan para terapi yang menggunakan teknik-teknik bio medis berusaha mengubah gangguan-gangguan psikologis.

B. KONSELING

2.1 DEFINISI KONSELING

Konseling secara etimologi, berasal dari bahasa latin, yaitu consilium (dengan atau bersama), yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Dalam bahasa Anglo saxon, istilah konseling berasal dari sellan, yang berarti menyerahkan atau menyampaikan. Ada berbagai definisi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli tentang Konseling, diantaranya :

1. Menurut Robinson (1986), konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan.

2. Menurut Pepensky & Pepensky (1974), konseling adalah interaksi yang terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien, terjadi dalam suasana yang profesiona, dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan dalam tingkah laku klien.

3. Menurut Gibson (1981), konseling adalah hubungan tolong menolong yang berpusat kepada perkembangan dan pertumbuhan seseorang individu serta penyesuaian dirinya dan kehendaknya kepada penyelesaian masalah, juga kehendaknya untuk membuat keputusan terhadap masalah yang dihadapinya.

4. Menurut Shertzer & Stone (1974), konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.

5. Menurut Wren (1955), konseling adalah suatu hubungan yang dinamik dan bertujuan antara konselor dan klien.

Menurut pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa Konseling adalah hubungan antar seorang konselor yang terlatih dengan seorang klien, bertujuan untuk membantu klien memahamai ruang hidupnya, serta mempelajari untuk membuat keputusan sendiri melalui pilihan-pilihan yang bermakna dan yang berasaskan informasi dan melalui penyelesaian masalah-masalah yang berbentuk emosi dan masalah pribadi.

2.2 CIRI KONSELING

Ada beberapa ciri pokok dalam konseling yaitu :

1. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan, gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan lain untuk meningkatkan kepahaman kedua belah pihak yang terlibat dalam interaksi itu.

2. Model interaksi dalam konseling, terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dan klien saling berbicara.

3. Interaksi antara konselor dan klien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tearah kepada pencapaian tujuan.

4. Tujuan dari hubungan konseling terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.

5. Konseling merupakan proses dinamis, dimana individu kklien dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuannya dalam mengatasi masalah yang sednag dihadapi.

6. Konseling didasari atas penerimaan konselor secara wajar tentang diri klien, atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.

2.3 FUNGSI KONSELING

1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).

3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

8. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

9. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseling.

10. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.

2.4 TUJUAN KONSELING

Selain tujuan konseling yang tercantum dalam prinsip konseling diatas, ada beberapa ahli yang mengemukakan tujuan konseling, antara lain :

1. Menurut Willis, konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkannya, agar berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah. Menurutnya, dalam era global dan pembangunan saat ini, konseling bukan saja bersifat klinis-psikologis, tapi harus lebih menekankan pada pengembangan potensi individu yang terkandung didalam dirinya, baik intelektual, afektif, sosial, emosional, dan religius; menjadikannya sebagai individu yang akan berkembang dengan nuansa yang lebih bermakna, harmonis, sosial, dan bermanfaat. Dengan demikian, ada perubahan konsepsional antara pengertian konseling lama dengan konseling baru, dimana konseling bukan saja bersifat klinis, tapi juga bersifat preventif dan pengembangan individu.

2. Menurut Prof. Rosjidan, ada tiga kategori yang bisa dicatat dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan sebuah konseling. Tujuan khusus ini meliputi :
a. Merubah tingkah laku yang terganggu
b. Mempelajari tingkah laku yang terganggu,
c. Mencegah problem-problem.

3. Corey (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996) mengelompokan tujuan-tujuan konseling menjadi :
a. Reorganisasi kepribadian
b. Menemukan makna dalam hidup
c. Penyembuhan ganguan emosional
d. Penyesuaian terhadap masyarakat
e. Pencapaian aktualisasi (perwujudan) diri
f. Peredaan kecemasan
g. Penghapusan perilaku maladaptif (sulit untuk menyesuaikan diri)
h. Belajar pola-pola perilaku adaptif

4. Shertzer dan stone (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996) membuat pengelompokan yang lebih sederhana mengenai tujuan konseling, meliputi :
a. Perubahan perilaku
b. Kesehatan mental yang positif
c. Pemecahan masalah
d. Keefektifan pribadi
e. Pengambilan keputusan


C. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING
3.1 PERSAMAAN PSIKOTERAPI DAN KONSELING

1. Konseling dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk membantu/memberikan layanan pada individu-individu mengenai permasalahan yang bersifat psikologis.

2. Konseling dan Psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada klien untuk suatu perubahan tingkah (behavioral change), kesehatan mental positif (positive mental health), pemecahan masalah (problen solution), keefektifan pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision making).

3. Konseling dan psikoterapi membantu dan memberikan perubahan, perbaikan kepada klien (yaitu, eksplorasi-diri, pemahaman-diri, dan perubahan tindakan/perilaku) agar klien dapat sehat dan normal dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

4. Konseling dan psikoterapi merupakan bantuan yang diberikan dengan mencoba menghilangkan tingkah laku merusak-diri (self-defeating) pada klien.

5. Psikoterapi maupun konseling memberikan penekanan pentingnya perkembangan dalam pembuatan keputusan dan ketrampilan dalam pembuatan rencana oleh klien.

6. Pentingnya saling-hubungan antara klien dan psikoterapis ataupun konselor disepakati sebagai suatu bagian integral dalam proses psikoterapi maupun konseling. Jadi, inti dari konseling dan psikoterapi adalah bantuan kepada klien melalui hubungan yang bersifat positif dan membangun.

7. Konselor sering mempraktekkan apa yang oleh psikoterapis dipandang sebagai psikoterapi dan psikoterapis sering mempraktekkan apa yang oleh konselor dipandang sebagai konseling.

3.2 PERBEDAAN KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI

      Apabila kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut psikoterapi menurut Wolberg (1954), Psikoterapi adalah suatu bentuk (perawatan atau perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.
       Sedangkan konseling menurut Robinson (1986), konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan.
     Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
     Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian ke arah yang positif.

a. Konseling

1. Berpusat pandang masa kini dan masa yang akan datang melihat dunia klien.

2. Klien tidak dianggap sakit mental dan hubungan antara konselor dan klien itu sebagai teman yaitu mereka bersama-sama melakukan usaha untuk tujuan-tujuan tertentu, terutama bagi orang yang ditangani tersebut.

3. Konselor mempunyai nilai-nilai dan sebagainya, tetapi tidak akan memaksakannya kepada individu yang dibantunya konseling berpusat pada pengubahan tingkah laku, teknik-teknik yag dipakai lebih bersifat manusiawi.

4. Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan berjangka pendek.

5. Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret.

b. Psikoterapi

1. Berpusat pandang pada masa yang lalu-melihat masa kini individu.

2. Klien dianggap sebagai orang sakit mental dan ahli psikoterapi (terapis) tidak akan pernah meminta orang yang ditolongnya itu untuk membantu merumuskan tujuan-tujuan.

3. Terapis berusaha memaksakan nilai-nilai dan sebagainya itu kepada orang yang ditolongnya.

4. Psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.

5. Psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah dan berkembang terus.

Selain itu, ada dua perbedaan antara Piskoterapi dengan Konseling, yaitu:
1. Istilah psikoterapi lebih sering digunakan untuk klien atau pasien yang mengalami masalah berat, tetapi konseling hanya membantu gangguan yang kurang serius dan biasanya dilakukan di dalam pendidikan.
2. Psikoterapi dan konseling dilakukan atas permintaan klien atau pasien, sedangkan bimbingan dapat dilakukan tanpa diminta.

Pallone (1977) dan Patterson (1973) menyimpulkan perbedaan konseling dan psikoterapi yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut :

PSIKOTERAPI
KONSELING
Pasien. Klien.
Gangguan yang serius. Gangguan yang kurang serius.
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan. Masalah ; Jabatan, Pendidikan, dsb.
Berhubungan dengan penyembuhan. Berhubungan dengan pencegahan.
Lingkungan medis. Lingkungan pendidikan dan non medis.
Berhubungan dengan ketidaksadaran. Berhubungan dengan kesadaran.
Jangka panjang. Jangka pendek.

Dari berbagai perbedaan dilihat dari berbagai aspek-aspeknya antara konseling dan psikoterapi, maka lebih jelasnya dapat disimpulkan sebagaimana tabel berikut :

PERBEDAAN
PSIKOTERAPI
KONSELING
Jenis bantuan Bantuan psikis Bantuan non material (bantuan psikologis).
Pihak yang terlibat - Para ahli kejiwaan.
- Individu yang mengalami gangguan kejiwaan (kesehatan mentalnya terganggu).
- Konselor.
- Konseli.
Tujuan Menyembuhkan atau menghilangkan gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien. - Pemahaman diri.
- Penerimaan diri.
- Pengelolaan diri.
- Mengoptimalkan potensi dan kemampuan konseli.
- Pemecahan masalah.
- Aktualisasi diri.
- Mengubah KES T (Kehidupan Efektif Sehari-hari Terganggu) menjadi KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari).
Proses - Menggunakan obat penenang.
- Berkelanjutan hingga gangguan kejiwaan hilang.
- Wawancara konseling sebagai alat utama.
- Berkelanjutan.
- Normatif.
Tahapan Mengikuti tahapan dokter spesialis gangguan kejiwaan. - Membina hubungan baik (rapport).
- Explorasi masalah.
- Merumuskan tujuan.
- Merencanakan bantuan.
- Evaluasi, tindak lanjut.
Hasil (Output) Gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien hilang (sembuh). - Individu yang mandiri.
- Mencapai KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari).
- Terpecahkannya suatu masalah yang dihadapi individu.

D. DAFTAR PUSTAKA

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta : Kanisius.

Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Slamet, S & Markam, S. (2003). Pengantar psikologi klinis. Jakarta : UI Press